Wednesday, 11 March 2020

Meluluhkan Jason


Bab Satu

RUANGAN itu gelap, dan sangat hening. Pria itu berbaring di tempat tidur dalam keputusasaan yang bisu mencekam.
            Suster Smith memandangi pria itu beberapa saat sebelum berkata, “Selamat siang, Mr. Tenby.”
            Hening. Pria itu mungkin sudah meninggal.
            Mata pria itu dibalut, begitulah keadaannya sejak kecelakaan yang hampir menewaskan dirinya. Elinor tahu seberapa parah luka di balik perban-perban itu. Ia menatap tangan yang diletakkan di atas seprai tempat tidur itu. Tangan yang besar dan tak berperasaan, persis seperti pemiliknya. Jason Tenby selalu memaksakan kehendaknya terhadap semua orang yang menghalangi jalannya, tapi hari ini dia tak berdaya, meminta belas kasihan dari wanita yang menganggapnya musuh.
            Elinor Smith menguatkan hatinya. Ia adalah perawat, yang disumpah untuk melindungi mereka yang sakit dan tak berdaya, dan saat ini pria itu adalah keduanya. Tak jadi soal apakah pria itu dulu menghancurkan cinta Elinor sehingga ia selamanya hidup dalam kesendirian yang hampa. Sudah tugasnya merawat pria itu.
            “Aku tidak ingin ada perawat mana pun lagi,” kata pria itu dengan letih.
            “Saya tahu. Saya sudah diberitahu oleh agen saya.”
            “Dua perawat terakhir melarikan diri.”
            “Maksud Anda mereka minta berhenti dengan penuh harga diri.”
            Jason Tenby menggeram. “Kau juga sudah mendengar tentang itu?”
            “Pemimpin agensi telah menceritakan semuanya kepada saya. Dia bilang lebih adil kalau dia memperingatkan saya tentang Anda.”
            “Supaya kau hanya bisa menyalahkan diri sendiri karena mengabaikan peringatan itu.”
            “Benar. Saya hanya dapat menyalahkan diri sendiri.”
            “Aku ingin tahu, berapa lama lagi kau akan kabur?”
            “Anda tak bisa dengan mudah mengusir saya.” Ia berusaha menyelami keadaan, karena tahu pendekatan yang lugas lebih bisa diterima oleh pasien ini. Simpati hanya akan membuat Jason marah. Dia sudah di ambang batas ketahanannya, berusaha keras mempertahankan kewarasannya yang hampir hilang.
            Elinor melihat ke sekeliling kamar tidur Jason yang bergaya kuno, dengan tempat tidur dan perabotan berat dari kayu ek. Karpetnya berwarna cokelat tua sedangkan tirainya berwarna merah bata menggantung di jendela-jendelanya yang tinggi.
            Ruangan itu amat sangat memancarkan jiwa maskulin, tak ada sesuatu pun yang lembut atau lunak. Pria yang tinggal di rumah mewah ini tidak terlalu memedulikan barang-barang pribadi. Pria yang keras. Pria yang kaku di gurun pasir yang kaku.
            “Dan namamu?” tanya Jason akhirnya.
            “Suster Smith.”
            “Yang kumaksud nama depanmu.”
            “Saya rasa untuk saat itu Suster Smith saja sudah cukup.”
“Suka yang formal, ya?
“Memudahkan Anda kalau mau memarahi saya.”
“Sepertinya benar. Bagaimana rupamu?”
“Saya mengenakan seragam putih dan topi suster warna putih. Serta sepatu datar warna hitam.”
Dalam keheningan panjang yang muncul sesudah itu, Elinor dapat merasakan pria itu menilai dirinya.
“Demi Tuhan, kau dingin sekali!” kata pria itu akhirnya.
“Saya di sini untuk menolong Anda, Mr Tenby. Hanya itu yang terpenting. Saya ingin melihat Anda bangkit dan berjalan lagi, seperti dulu.”
Suara Jason terdengar getir. “Dan kau benar-benar mengira itu akan terjadi? Sudahkah kau membaca catatan itu?”
“Ya. Ada kebakaran di kandang kuda. Anda masuk untuk menyelamatkan seekor kuda lalu langit-langitnya menimpa Anda.”
Jason menggeram lagi. “Kuda sialan itu bahkan tak berada di sana. Seseorang telah mengeluarkannya.”
“Pasti berat menderita semua ini karena sesuatu yang sia-sia,” Elinor setuju.
 “Anda beruntung karena luka bakarnya tidak parah.”
“Ya, orang-orang terus berkata betapa beruntungnya aku,” kata sosok yang tak tampak oleh mata di atas tempat tidur.
“Tubuh Anda sebagian terlindung oleh balok yang menimpa Anda. Berkat balok itu luka bakarnya hanya di permukaan dan sekarang mulai sembuh. Begitu pula tulang rusuk Anda. Tulang belakang Anda cedera, tapi dengan sedikit keberuntungan tak lama lagi akan sembuh.”
“Kau hanya mengatakan kalimat yang sama seperti yang dikatakan mereka. Tapi sebenarnya kau sendiri pun tak percaya.”
Benar. Elinor sama sekali tidak yakin Jason akan dapat melihat atau berjalan lagi. Tapi pria itu harus diyakinkan bahwa dia masih punya harapan.
“Saya yakin semua itu akan terjadi jika kita saling membantu,” ucap Elinor tegas. “Dan itulah yang akan kita lakukan.”
Tiba-tiba alis Jason bertaut dan ia menutup matanya yang diperban dengan tangannya. Elinor dapat melihat bahwa sesuatu yang sangat penting dalam diri pria itu telah membuka.
“Demi Tuhan, pergi!” hardik pria itu dengan suara bergetar. “Biarkan aku sendirian.”
“Tentu.” Elinor menutup pintu dengan tegas agar Jason dapat mendengar bahwa ia telah pergi.
Mrs. Hadwick, sang pengurus rumah tangga, sedang menunggu di lorong.
“Semua koper Anda telah dibawa ke atas, Miss,” ujarnya. “Saya akan menunjukkan jalan.”
Karena ia tadi tegang memikirkan akan bertemu Jason, Elinor memutuskan untuk mengunjungi Jason terlebih dulu sebelum pergi ke kamarnya. Sekarang ia mengikuti sang pengurus rumah tangga berjalan di sepanjang lorong lalu membelok di sudut. Dan, dengan terkejut, ia menyadari ke mana ia akan pergi.
“Kamar ini---“ katanya.
“Ini kamar tamu terbaik,” ucap Mrs. Hadwick sambil mendorong pintu hingga membuka. “Saya akan membawakan teh Anda ke atas.” Ia lalu menghilang.
Kamar itu besar dan mengesankan, dengan tempat tidur bertiang empat diletakkan di tengah-tengahnya. Di ruangan itu juga ada meja rias, meja biasa dan kursinya, serta sebuah kursi berlengan yang besar dan empuk. Dua jendela tinggi dengan tirai-tirai yang menyapu lantai. Tak ada yang berubah sejak terakhir kali ia tidur di sini, enam tahun yang lalu.
Sampai saat ini ia berhasil mengendalikan kenangannya, tapi di dalam kamar itu semua kenangan itu seakan menyerbu masuk.
Simon seakan sedang bersamanya, begitu muda dan tampan, penuh cinta dan gairah, sebagaimana pria itu pertama kali membawanya ke rumah ini sebagai calon pengantin. Waktu itu Simon mengemudi sambil melingkarkan satu tangan ke pundaknya dan tangan yang lain memegang kemudi mobil balapnya yang kemilau dan baru. Mereka melaju di sepanjang jalan yang dinaungi pohon ek sampai tiba-tiba rumah itu muncul di hadapan mereka, dan Elinor terkesima melihat keindahan serta kemewahannya.
“Simon, aku tak pernah membayangkan---itu rumahmu?”
“Ada apa dengan rumah itu?”
“Aku tak pernah melihat rumah seperti itu. Aku tumbuh di rumah kumuh yang saling berimpitan di tengah kota. Ibuku tukang bersih-bersih di pabrik ayahmu.”
Simon tertawa. “Yang benar? Ceritakan padaku.”
“Ibuku biasanya mendapat giliran kerja pagi hari. Suatu hari Ibu membawaku bersamanya. Itu melanggar peraturan, tapi kalau tidak begitu aku terpaksa tinggal sendirian di rumahku yang kosong. Kami nyaris tidak ketahuan, tapi suatu pagi aku tak sengaja bertemu kakakmu.”
“Jason? Maksumu kalian pernah bertemu? Apa dia masih ingat kepadamu?”
“Saat itu umurku delapan tahun. Dia tidak akan mengenaliku setelah sekian tahun. Kau tidak boleh memberitahunya. Janji.”
“Aku janji.”
“Sumpah mati. Ya ampun, seharusnya aku tidak menceritakan kepadamu.”
“Sayangku, kau membuatku sedih. Kalau kau tak dapat mempercayaiku, siapa lagi yang dapat kaupercaya?”
“Oh, aku tidak bermaksud begitu. Sungguh. Tentu saja aku percaya padamu, tapi kau tahu kan? Tempatku bukan di sini.”
“Tempatmu adalah bersamaku,” kata Simon tegas.
Ia amat mencintai Simon. Hingga rasanya tubuhnya yang langsing itu bisa pecah berkeping-keping akibat sedemikian besar kekuatan cintanya.
Ketika mereka semakin dekat ke rumah itu ia melihat seorang pria jangkung berdiri di anak tangga. Pria itu masih remaja waktu Elinor pertama kali melihatnya di pabrik, tapi ia tak kesulitan mengenali pria itu lagi sebagai Jason Tenby.
Tinggi pria itu pastilah seratus sembilan puluh sentimeter dengan bahu bidang. Kehadirannya menyiratkan keagungan yang pastilah lebih berhubungan dengan auranya daripada sosoknya sendiri. Rambut pria itu berwarna cokelat tua dengan sedikit sentuhan merah, kulitnya gelap seakan-akan dia sering menghabiskan waktu di luar ruangan. Dia mengenakan celana berkuda dan jaket wol, cara berdirinya santai dengan satu kaki berada di anak tangga terbawah. Tangannya dibenamkan ke dalam kantong. Pria itu benar-benar seperti pemimpin keluarga yang sedang mengawasi pasukan yang menyerbu kediamannya, memperkirakan besarnya ancaman yang datang.
“Apa kabar, Miss Smith?” Suara pria itu terdengar dalam dan hidup. Apakah perasaannya tidak salah kalau ia merasa suara pria itu terdengar menyindir, seolah-olah  pria itu mengejek namanya yang begitu pasaran?
Jabatan tangan pria itu begitu mantap. Tangan Elinor yang mungil tertelan genggaman tangan pria itu yang sangat besar, dan ia nyaris terkesima merasakan kekuatan genggamannya dan rasa berkuasa yang terpancar darinya.
Elinar ingat setiap kejadian pada malam pertama ia berada di Tenby Manor. Itulah kali pertama ia berada di rumah yang penghuninya berdandan dulu sebelum makan. Setidaknya, pikir Elinor, aku bisa menyesuaikan dengan lingkunganku karena tadi telah membawa gaun panjangnya yang mahal dan kalung bermata safir yang halus, keduanya hadiah dari Simon. Simon begitu tampan dalam balutan jas makan malam dan dasi hitam. Meskipun demikian, mata penuh cinta Elinor dapat melihat Simon tertutup bayang-bayang abangnya.
Simon berusia dua puluh tahun, langsing dan penuh semangat, dengan wajah tampan kekanak-kanakan dan selalu berbicara dengan cepat. Sedangkan Jason berusia dua puluh delapan tahun dengan tutur kata yang perlahan dan penuh pertimbangan serta aura berkuasa yang jauh melebihi umurnya.
Simon membuatnya terpesona. Jason membuatnya kagum.
Hanya sedikit kemiripan di antara abang beradik itu. Wajah Jason sudah tampak keras karena sarat pengalaman. Mulut dan dagunya tampak kokoh yang menandakan pria itu tidak sabar menghadapi orang bodoh, atau siapa pun yang tidak mematuhinya. Namun ketika dia santai mulutnya bisa melengkung, menyiratkan kejenakaan, sensualitas, bahkan pesona. Elinor selalu gugup bilamana pria itu menatapnya karena mata pria itu begitu kelam seakan dapat melahap cahaya, sehingga jalan pikiran pria itu sangat sulit dibaca.
Pada dinding-dinding ruang makan yang besar itu berjajar potret leluhur Tenby, dan di bawah tatapan penuh selidik mereka Elinor pastilah akan salah menggunakan garpu dan pisau, atau menyenggol salah satu gelas kristal. Tapi ternyata yang terjadi tidak seperti yang ia takutkan. Jason berbicara cukup sopan kepadanya, dan tidak memperlihatkan tanda-tanda mengenali dirinya. Setelah itu Jason mengajaknya melihat-lihat rumah yang besar itu kemudian mereka duduk mengobrol di perpustakaan.
“Jadi bagaimana kau bisa bertemu adikku?” tanya pria itu seraya mengulurkan segelas sherry.
            “Memangnya Simon belum cerita?”
            “Aku ingin mendengar versimu. Simon cenderung suka---apa istilahnya---mendramatisir?”
            Elinor mengangguk. “Daya imajinasinya memang hebat,” katanya dengan penuh semangat. Bagi kakaknya yang muram kecenderungan Simon untuk hanyut dalam suasana pasti terasa menyebalkan, tapi bagi Elinor yang menjalani hidup membosankan sifat Simon itu malah dianggap kelebihannya.
            “Hebat,” ulang Jason. Lalu, tanpa disangka-sangka, pria itu menyeringai. Elinor tak dapat menahan diri untuk balas tersenyum, dan selama sesaat, rasa saling mengerti berkelebat di antara mereka.
            “Aku bekerja di toko sepatu,” tutur Elinor dengan sedikit menantang. “Dan suatu hari Simon datang untuk membeli sepatu.”
            Waktu itu Simon tinggal di tokonya selama dua jam dan pulang membawa lima pasang sepatu---“habis aku tak dapat melepaskan pandanganku dari wajahmu yang manis itu”, begitu katanya pada Elinor ketika mereka berdua pergi makan malam.
            “Apakah kau pernah melakukan pekerjaan lain?” tanya Jason.
            “Aku sedianya akan kursus perawat, tetapi ibuku jatuh sakit dan aku harus tinggal di rumah untuk menjaga Ibu sampai beliau meninggal.”
            “Jadi kau belum mulai kursus?”
            “Well---lalu aku bertemu Simon,” Elinor menjelaskan, dan tak ada yang dapat menghentikan senyum lembut itu untuk mengembang di bibirnya.
            Ia mendengar suara seperti orang terkesiap dan cepat-cepat mengangkat kepala lalu melihat Jason sedang menatapnya, lekat-lekat.
            “Apa pekerjaan ayahmu? tanya pria itu tiba-tiba.
            “Ayah sudah meninggal 10 tahun yang lalu.”
            Joe Smith terjatuh di selokan ketika berjalan pulang ke rumah sambil mabuk dari pub, lalu tertidur di genangan air dan tidak pernah bangun kembali. Elinor dapat membayangkan apa tanggapan pria tegas ini terhadap ceritanya tadi.
            Sambil bercerita ia melihat Jason mengerutkan kening, dan tiba-tiba pria itu mencondongkan tubuh ke arahnya dan berkata, “Kau benar-benar putri Brenda Smith. Awalnya aku tak percaya---“
            Akhirnya pria itu mengenaliku, pikir Elinor putus asa.
            “Ya, aku---benar---“
            “Dan kita pernah bertemu di pabrik. Well, well! Mau sherry lagi?”
            Ketika Elinor menyesap anggurnya pria itu tiba-tiba bertanya, “Apa yang membuatmu memilih baju itu?”
            Karena tidak siap, Elinor menjawab seadanya dengan jujur. “Simon yang memilihkan.”
            “Sesuai perkiraanku,” jawab pria itu datar. “Dan yang membelinya juga, aku berani bertaruh.”
            “Aku tidak memintanya untuk---“
            “Tidak usah mengatakan apa pun. Aku mengenal adikku. Baju itu terlalu kuno dan mewah untukmu.”
            “Ku---kupikir baju ini pantas,” gagap Elinor.
            “Maksudmu kaupikir kau harus berdandan dan berpura-pura menjadi bukan dirimu sendiri. Ide brengsek! Kaupikir siapa yang kaubohongi?”
            Pipi Elinor memerah. Jason melihatnya lalu menambahkan dengan lebih lembut, “Jangan dimasukkan ke hati. Aku orang yang lugas---kasar, menurut beberapa orang---dan berbicara seadanya. Dan, dengan kata-kata yang sederhana, kau dan Simon tidak cocok.”
            “Kau bisa mengatakan begitu hanya dalam semalam.”
            “Aku bisa mengatakannya hanya dengan melihat semenit.”
            Dengan lega Elinor melihat Simon datang mencari mereka. Jason tidak berkata apa-apa lagi, dan membiarkan Simon membawa Elinor berjalan-jalan di taman.
            “Dia mengenaliku,” kata Elinor, dengan cemas. “Dia selama ini tahu aku siapa. Ini tidak lucu---“ Simon terkekeh.
            “Maafkan aku, Sayang,” Simon tertawa kecil. “Apa yang sebenarnya dia katakan?”
            “Katanya, ‘Kau benar-benar putri Brenda Smith. Mula-mula aku tak percaya---‘. Oh, Simon, tidakkah kau mengerti apa artinya? Dia sudah mengetahuinya sejak makan malam dan dia hanya diam saja sampai merasa siap.”
            “Apakah dia mengatakan kepadamu apa yang membuatnya tahu?” tanya Simon dengan nada penasaran.
            “Tidak. Oh, memangnya itu penting? Dia menertawaiku sepanjang waktu.”
            “Dia senang merasa lebih daripada orang lain,” Simon sependapat.
            “Apa lagi yang dia katakan?”
            “Bukankah itu sudah cukup? Dia benci padaku karena aku tidak punya ‘latar belakang’”
            Gema tawa Simon yang menemaninya bertahun-tahun ini meliputinya. Betapa muda dan ceria Simon waktu itu! Betapa murah hati dan memesona! “Siapa yang peduli pada masa lalu?”
            Namanya Elinor Lucinda, tapi Simon memanggilnya Cindy. Cindy sebagai singkatan dari Lucinda, tapi juga---
            “Cindy singkatan dari Cinderella,” godanya. “Cinderella mungilku.”
            Ia tertarik pada kemiskinan Elinor. “Aku senang bisa memberimu berbagai hal,” katanya pada malam mereka pertama kali bertemu sambil berjalan di bawah pepohonan. “Aku akan menyelimutimu dengan berlian.”
            “Tapi aku tidak ingin berlian. Aku hanya ingin cintamu, sayangku. Tidak ada yang lain selain cintamu.”
            “Kau bisa mendapatkan itu juga, diikat dengan pita besar cemerlang, berikut semua hal yang kauminta.”
            Karena sangat bahagia, Elinor tidak menyadari mereka telah sampai di rumah dan sedang berjalan melintasi aula. Baru saat itu ia melihat Jason yang sedang berdiri di tangga, cukup dekat untuk mendengar janji-janji muluk Simon. Tapi suara Elinor sendiri lebih pelan, dan Jason mungkin tidak mendengar protes lembutnya tadi.
            Elinor dapat melihat sekilas wajah Jason, kelam dan marah, sebelum pria itu berbalik badan.
            Jason tidak pernah menceritakan apa yang tak sengaja didengarnya tadi, tapi dalam berbagai cara ia menegaskan bahwa dalam hal keuangan Simon bergantung padanya. Dan Simon mengakuinya.
            “Aku mendapat bagian cukup besar dalam surat warisan Ayah, tapi Jason-lah yang memegang kendali sampai aku berusia 25 tahun,” ia menjelaskan sambil mengangkat bahu. “Lalu memangnya kenapa? Memangnya dia bisa menghentikanku memakai kartu kredit? Lalu bila kartunya sudah dipakai, memangnya dia bisa tidak membayarnya? Lagi pula ini kan uangku. Jangan khawatir soal itu.”
            Itulah falsafah kehidupan Simon. Jangan khawatir soal itu. Dan entah mengapa semua selalu berjalan seperti yang diinginkan Simon. Karena terpesona, seperti sekarang ini, sangat mudah untuk percaya akan falsafah hidup Simon.
            Elinor curiga bukan suatu kebetulan kalau kamar tidur mereka berada di kedua ujung yang berseberangan dari rumah besar itu. Sebenarnya sikap hati-hati Jason tidak diperlukan. Gadis muda itu belum menyerahkan diri sepenuhnya ke pria yang ia puja, dan ia akan lebih mencintai Simon jika pria itu menghargai keinginannya. Hari saat mereka akan menyatu secara jiwa dan raga akan tiba tak lama lagi. Tapi untuk saat ini Elinor lebih suka menunggu saat itu tiba dengan penuh harap.
            Jadi keputusan Jason untuk menjauhkan adiknya dari tempat tidur Elinor adalah suatu penghinaan. Itu sama saja dengan mengatakan Elinor seorang penipu. Dan setidaknya ia mendengar kata-kata itu keluar langsung dari mulut Jason. Ia secara tak sengaja memergoki kedua kakak-beradik itu dan mendengar suara Jason.
            “Dasar bodoh. Kau tidak akan dapat mendekati kamarnya karena aku sendiri yang akan memasang kerangkeng di sana… Hal yang paling tidak kuharapkan adalah gadis itu hamil…”
            Elinor kabur sebelum mereka memergokinya. Ia sebenarnya ingin pergi dari Tenby Manor, namun ada tekad kuat di bawah sosoknya yang lembut itu, dan itu membuatnya memutuskan untuk tetap tinggal dan berjuang demi cintanya. Ya, bahkan kalau ia harus melawan Jason Tenby sendiri. Dan ia tahu pria itu adalah lawan yang tangguh.
            “Mengapa kau tidak melepaskan Simon?” tanya Jason. “Kau akan menemukan orang yang lebih cocok denganmu.”
            “Aku tidak pernah mencintai siapa pun selain Simon,” jawabnya dengan berapi-api.
            “Kalau begitu kau sungguh bodoh.”
            “Dan Simon? Apakah dia juga bodoh?” tanya Elinor, lebih berani daripada perasaannya.
            “Ya karena dia memercayai cinta yang sama sepertimu. Aku pernah melihatnya jatuh cinta. Dia menyukai tahap romantisnya, memuja gadis itu, membelikannya hadiah tanpa meminta imbalan.”
            Pria itu mengatakan kalimat terakhir tadi sambil mencibir sehingga Elinor tersinggung dan tanpa sadar berkata, “Aku tak percaya kau tidak meminta imbalan.”
            “Kalau begitu kau pandai menilai sifat orang,” katanya sambil menyeringai. “Bagian romantisnya memang bagus, tapi akulah nantinya yang harus menghiburnya saat dia patah hati, hal-hal yang membosankan.”
            “Tapi kau salah paham,” ujar Elinor penuh semangat. “Aku mengerti mengapa kau sangat peduli pada adikmu, tapi aku tidak akan membuatnya patah hati---“
            “Hanya ingin menghabiskan rekeningnya, kan?”
            “Itu hal terjahat untuk dikatakan---“
            “Dengar, aku sudah melihat hadiah yang dia berikan untukmu---semua dibeli dengan uang yang bukan miliknya.”
            “Aku tidak memintanya untuk---“
            “Tentu saja tidak. Kau tidak perlu mengatakannya. Dia suka pamer. Well, aku juga bisa murah hati---untuk suatu tujuan.” Pria itu menyebutkan sejumlah uang.
            “Kau mau menyogokku?” tanya Elinor dengan marah.
            Jason mengangkat bahu. “Terserah bagaimana kau mengatakannya. Itu tawaran yang bagus.”
            “Dan bagaimana dengan harga diriku? Bagaimana aku bisa mendapatkannya kembali?”
            “Pertanyaan bagus. Aku akan menaikkan tawarannya, tapi sedikit saja.”
            “Kau boleh menaikkannya dua kali lipat dan aku tetap tidak berminat.”
            “Tidak, jangan terlalu jual mahal. Aku tidak akan menaikkannya dua kali lipat.”
            Dengan marah Elinor berderap keluar, namun pada detik terakhir ada sesuatu yang membuatnya membalikkan badan untuk menatap Jason, yang berdiri di sana sambil menatapnya dengan pandangan menilai.
            Elinor terbiasa bangun pagi dan ia senang bangun diiringi matahari terbit lalu melihat ke luar jendela dan melihat matahari menyinari estat Tenby. Pada saat itu ia dapat melupakan segala ketegangan yang mengelilingi dirinya, menodai tempat yang indah ini.
            Namun suatu hari, pagi yang indah itu akhirnya ternodai, oleh sosok Jason yang berderap menapaki jalan setapak yang dinaungi pohon ek sambil menunggangi Damon, kuda jantan hitamnya yang besar. Simon menamakan kuda itu “binatang buas yang berusaha membunuh siapa pun yang mendekatinya”, namun Jason duduk di atasnya dengan mudah seakan-akan itu kuda poni.
            Pria itu tidak mengenakan jaket, dan lewat kemejanya yang tipis Elinor dapat melihat otot-ototnya yang menegang dan mengendalikan kuda besar itu tanpa susah payah.
            Dia pikir dia bisa mengendalikan semua hal, pikir Elinor---estat, adiknya, seluruh dunia. Tapi Elinor tidak akan membiarkan pria itu mengendalikannya.
            Beberapa saat kemudian pria itu berhenti di bawah jendela Elinor.
            “Kau bisa berkuda?” tanyanya.
            “Aku---ya, bisa,” jawab Elinor.
            “Bagus. Akan kucarikan kuda.”
            Elinor telah melakukan kesalahan besar. Ibunya dulu pernah bekerja di rumah seorah pria yang memiliki seekor kuda poni tua yang gemuk. Pria itu membiarkan Elinor bermain dengan kuda itu, dan ia belajar untuk memakaikan sadel lalu duduk di punggung kuda poni sementara kuda itu berjalan pelan. Dan ia mengira itu sama dengan menunggang  kuda.
            Elinor tampak cantik mengenakan pakaian berkuda milik adik perempuan Jason yang baru saja menikah, namun nyaris dengan segera ia tahu dirinya telah melakukan sesuatu yang sangat bodoh. Kuda itu harus ditunggangi dengan benar. Dan ia tidak tahu caranya.
            Kejadian berikutnya akan selalu menghantuinya dengan rasa malu.
            Kuda itu sama sekali tidak mengacuhkannya, berjalan seenak sendiri, sementara Elinor tambah lama tambah tersiksa dan malu. Satu-satunya usahanya untuk mengendalikan kuda itu membuat kuda itu berderap menuju sungai di dekatnya lalu berhenti tiba-tiba sehingga Elinor terjatuh ke air.
            Jason-lah yang menariknya keluar dari air. “Kenapa kau berpura-pura bisa menunggang kuda?” tuntutnya tak percaya. “Dasar bodoh!”
            “Aku bisa menunggang kuda, tapi bukan yang seperti itu,” Elinor berkeras sambil merapikan jaketnya yang basah kuyup. Di baliknya ia mengenakan sweter tipis yang sekarang juga basah kuyup.
            “Apa maksudmu, ‘kuda yang seperti itu’?” hardik Jason. “Ini kuda dan tidak ada apa-apa di antara kedua kupingnya. Ini biasa ditunggangi anak-anak, dengan asumsi anak itu tahu apa yang dilakukannya. Kau dulu belajar naik apa, kuda-kudaan?”
            “Hentikan!” teriak Elinor. “Berhentilah merundungku.”
            Merundungmu,  dasar bodoh? Aku berusaha mencegahmu melakukan kesalahan fatal dalam hidupmu.” Tiba-tiba pria itu seperti kehilangan kesabaran, dan mencengkeram erat-erat bahu Elinor. “Berhentilah menjadi orang lain, kau dengar itu? Pergilah dari sini selagi kau bisa. Simon bukan pria yang tepat untukmu.”
            “Biar aku yang memutuskan itu. Simon mencintaiku dan aku mencintainya.”
            Jason menggeleng lemah. Elinor berusaha melepaskan diri namun Jason mempererat cengkeramannya. “Cinta,” katanya dengan penuh dendam. “Apa yang kautahu tentang cinta?”
            Mereka saling menatap, sekarang keduanya sama-sama marah. Elinor tak dapat percaya dirinya bisa semarah ini. Biasanya ia bersikap manis terhadap kesalahan, tapi tiba-tiba kendali dirinya lenyap dan amarah yang hebat menggelegak di dalam dirinya, menyapu segala yang ada di depannya, mengejutkannya. Dan itu juga mengejutkan lawannya. Elinor dapat melihatnya di mata Jason, seakan-akan ada sesuatu yang tak terduga menerjangnya.
            “Hei !”
            Suara Simon mengejutkan mereka berdua. Pria itu berkuda mendekati mereka sementara mereka berdua tak menyadari. Jason mengumpat pelan lalu melepaskan Elinor. Simon turun dari kudanya lalu memakaikan jaketnya ke tubuh Elinor. Jason kembali ke atas kudanya lalu berderap pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
            Malam itu Simon mengukir inisial mereka di pohon ek, mencium Elinor, dan berkata, “Aku bisa saja meninjunya karena memegangmu seperti tadi. Apakah kau tau kau tampak nyaris telanjang karena tercebur ke air?
            Pipi Elinor merona dan ia tertawa. “Kau tak perlu cemburu kepada kakakmu. Dia pria terakhir yang akan kulihat. Aku tidak mengerti bisa ada wanita yang suka padanya.”
            “Jason tahu bagaimana membuat dirinya menyenangkan bila ia merasa perlu. Tapi bila dia mau membuat dirinya menyebalkan---hati-hati saja!”
            “Dan dia sekarang membuat dirinya menyebalkan,” gumam Elinor. “Tapi itu tidak berpengaruh pada kita, ya kan?”
            “Kita tidak akan membiarkannya,” Simon berjanji.
            Betapa percayanya ia pada janji Simon bahwa pria itu dapat menyelesaikan semua masalah! Bila sekarang dilihat kembali, betapa polos dan menyedihkan kepercayaannya itu! Jason berhasil memisahkan mereka karena pria itu telah bersumpah akan melakukannya, dan tekad pria itu sudah bulat.
            Tapi Elinor tidak pernah membayangkan Jason akan melakukannya dengan cara yang amat kejam, licik, dan menjijikkan?
           
Ketika melihat sekeliling kamar tidur, Elinor tahu dirinya sudah gila karena kembali kemari, ke tempat kenangan pahit mengejeknya dari setiap sudut. Awalnya ia menolak pekerjaan ini, lalu pekerjaan ini diberikan kepada orang lain. Tapi dua hari yang lalu perawat itu mendapat masalah keluarga. Kepala yayasan memohon kepadanya agar menggantikan wanita itu, dan Elinor memutuskan mungkin sudah saatnya ia memerangi rasa takutnya.
            Wajah pertama yang menyambutnya bukan wajah hantu. Mrs. Hadwick telah bekerja untuk keluarga Tenby sepanjang hidup, tapi wanita itu sedang cuti waktu Elinor datang tempo hari.
            Keputusannya untuk tidak memberitahu Jason siapa dirinya sebenarnya hanyalah dorongan sesaat. Smith adalah nama yang sangat umum sehingga pria itu tidak akan mengenalinya hanya dari nama itu saja. Bahkan Elinor pun mungkin tidak dikenali pria itu. Pria itu mengenalnya sebagai Cindy.
            Ia melakukan itu demi Jason. Memberitahu pria itu hal yang sebenarnya hanya akan membuat pria itu tambah tertekan, padahal tanpa hal itu pun pria itu sudah cukup tertekan.
            Elinor pun merasa tertekan. Ia bersumpah akan kembali, dan ia menepatinya, sebagai pembangkangan terhadap perintah Jason.
            Sekarang ia merasa tidak enak. Dulu dia membuat sumpah itu dalam keadaan sedih dan marah, tapi setelah bertahun-tahun semua amarah itu telah sirna, digantikan dengan tekad untuk menjadi wanita sukses. Ia bekerja siang dan malam agar mendapat kualifikasi sebagai perawat.
            Ia tidak punya kehidupan sosial. Ia tidak menginginkan cinta. Sementara gadis-gadis lain berpacaran, ia belajar, dan lulus dengan nilai nyaris tertinggi di kelasnya.
            Sekarang ia telah menjadi wanita profesional yang anggun dan berwibawa. Tidak ada satu pun yang dapat menghubungkannya dengan gadis canggung yang datang ke Tenby Manor tempo hari.
            Atau begitulah yang ia kira, sampai ia melihat musuhnya lagi.
            Waktu kembali berputar dan ia terkenang akan pertemuan pertama mereka, ketika ia menggenggam tangan Simon untuk mencari kekuatan. Lalu ia ingat dirinya adalah Suster Smith, perawat yang sangat cakap dan laris. Dan Jason Tenby adalah pria lumpuh, yang memerlukan bantuan, jika pria itu ingin sembuh seperti semula.
            Mengetahui hal itu tidak membuat Elinor senang, ia malah cemas karena bebannya terasa terlalu berat.
            Lalu ia mendorong perasaan itu jauh-jauh. Ia telah belajar untuk menjadi kuat demi dirinya sendiri. Sekarang ia harus menjadi kuat demi pasiennya. Itulah Jason. Pria itu hanya seorang pasien.

Bab Dua

KETIKA pintu telah tertutup di belakang Suster Smith, Jason Tenby berbaring dalam kegelapan, berusaha mendengarkan. Tubuhnya sakit karena tegang, kepalanya berdenyut-denyut, dan keheningan itu seakan berdengung di telinganya.
                Ia berharap dapat memaksa dirinya agar tenang, tapi ia tidak tahu caranya. Sejak lahir ia telah menjadi ahli waris Tenby, memikul beban pengharapan Tenby. Ayahnya meninggal waktu ia berusia 22 tahun meninggalkan warisan berupa kewajiban seumur hidup yang sangat berat yang harus ia pikul di bahunya yang kecil.
                Ia harus melebarkan bahunya untuk memikul beban itu. Tradisi keluarga membuatnya bertanggung jawab secara pribadi terhadap setiap pekerja di lahan dan pabriknya. Sudah tugasnya untuk menjamin selalu ada pekerjaan untuk mereka.
                Seumur hidupnya Jason tidak pernah lalai dari kewajiban ini.
                Dia membayar semua utang dan membuat propertinya lebih menguntungkan daripada sebelumnya, tapi semua itu akhirnya berpengaruh bagi dirinya. Ia tidak pernah secara sadar bersenang-senang, ia menyisihkannya untuk masa depan, dan sekarang ia nyaris tak ingat kapan.
                “Jangan pernah membiarkan siapa pun---dan terutama wanita---mengetahui dirimu lebih daripada kau sendiri,” kata ayahnya. “Kau pemimpin. Tidak boleh ada orang yang lebih baik daripada dirimu.”
                Selama bertahun-tahun ia berusaha memahami arti dari nasihat itu. Dan ia menambahkan, ‘Jangan biarkan dunia tahu bahwa kau takut’. Ia telah merasakan banyak rasa takut. Takut karena tidak cakap dalam pekerjaannya, takut orang-orang merasa ia tidak cakap dalam pekerjaannya.
                Tapi tidak ada satu pun yang menyiapkannya untuk menghadapi rasa takut yang dialaminya sekarang. Rasa takut itu membuntutinya di kegelapan siang. Menunggu untuk menerkamnya di saat ia tidur.
                Rasa takut itu mengisi kekosongan dalam hidupnya. Membuatnya takut pada mimpi buruk. Takut pada masa depan, pada orang-orang yang hanya dapat didengar namun tidak dapat dilihat, pada para tenaga medis karena mereka tahu sesuatu yang tidak ia ketahui.
                Para perawat datang dan pergi, mundur karena amarahnya. Tapi hari ini datang seseorang yang tidak mau tunduk padanya. Ia dapat merasakannya dari sikap wanita itu, mendengarnya dari suaranya yang tenang. Wanita itu kuat dan percaya diri, dan dia akan melawan.
                Tak lama lagi manager pabrik akan datang untuk memberi laporan dua mingguan dan menerima instruksi Jason. Ia berusaha menjernihkan pikiran agar tampak berwibawa. Ia tidak boleh memikirkan apa yang akan terjadi padanya bila terus buta dan lumpuh. Karena setelah itu rasa takut akan bangkit dan menyelubunginya.

“Mrs. Hadwick---“
                “Panggil saja aku Hilda, Sayang.”
                “Terima kasih, Hilda. Dan panggil aku Elinor.” Ia menyunggingkan senyumnya yang paling ramah. “Maafkan aku kalau merepotkan, tapi dapatkah kau mencarikanku tempat yang lain untuk tidur? Aku perlu berada di dekat pasienku di malam hari.”
                “Tepat di depan kamarnya ada kamar kosong,” kata sang pengurus rumah tangga dengan ragu. “Tapi hanya sebesar lemari.”
                Ternyata kamar itu sangat kecil, dengan ruangan yang nyaris tidak cukup untuk diisi tempat tidur, kursi, dan lemari pakaian.
                “Tidak apa-apa,” kata Elinor. “Yang penting aku siap datang kalau dia membutuhkanku.”
                Hilda menatapnya dengan senang. “Perawat-perawat lain tidak ada yang berpikiran seperti itu. Mereka teralu gembira bisa menjauh dari dia. Dia bukan pasien yang menyenangkan.”
                “Sepertinya begitu.”
                “Mula-mula aku kira dia akan gila. Biasanya dia pria yang aktif, lalu tiba-tiba dia tak dapat melihat dan bergerak. Lebih parah lagi kalau dia…” Wanita itu berhenti berkata seakan-akan tidak tega menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya.
                “Kau sangat sayang padanya, bukan?” tanya Elinor dengan terkejut. Sungguh sulit membayangkan ada orang yang suka pada Jason Tenby.
                “Oh, ya,” jawab Hilda seketika. “Dia sangat baik kepada aku dan Alf. Sewaktu Alf kehilangan pekerjaan, Jason mencarikannya pekerjaan di estat. Itulah Jason. Dia mengurus sendiri segalanya.”
                Elinor tidak mengomentari hal ini. Ia punya alasan untuk mengetahui bagaimana Jason Tenby mengurus segalanya.
                Sementara mereka bersama-sama membereskan tempat tidur Hilda menceritakan tentang keluarga itu.
                “Sekarang tidak banyak yang tersisa,” ujarnya dengan penuh penyesalan. “Hanya Jason, adiknya Simon, dan adik perempuan mereka. Dia menikah lalu pindah ke Australia. Simon tinggal di sini sampai beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia di London.”
                Elinor tahu bahwa Simon sudah pindah karena perawat yang terakhir bekerja di sini telah memberinya pengarahan singkat. Syukurlah ia tidak perlu takut bertemu dengan pria itu.
                Betapa getir raut wajah Simon ketika mereka berpisah tempo hari. Betapa buruk panggilan yang pria itu berikan kepadanya. Semua itu bukan salah Simon. Jason yang membuat situasi menjadi seperti itu. Tapi Simon begitu mudah percaya pada semua kata-kata buruk tentang Elinor. Betapa teganya dia?
                Elinor berusaha mengendalikan diri dan menanyakan beberapa pertanyaan remeh dan ringan. Hilda menjawabnya lalu perasaan itu menghilang.
                “Tapi kalau beruntung tak lama lagi akan ada keluarga baru,” celoteh wanita itu. “Kami semua berharap Jason tak lama lagi membawa pengantinnya ke rumah. Begitu dia sembuh, dia akan menikahi Miss Virginia.”
                “Maksudmu Virginia Cavenham?” cetus Elinor sebelum sempat memikirkannya baik-baik.
                “Ya, apakah kau kenal padanya?”
                “Tidak, tapi aku pernah mendengar nama Cavenham itu.” Keluarga Cavenham adalah keluarga yang cukup terpandang di daerah itu. Elinor belum pernah bertemu Virginia, tapi ia tahu gadis itu adalah gadis kebanggaan keluarga. Bahkan dulu pun Simon pernah berkata Virginia akan menjadi calon mempelai Jason. Gadis itu “sepadan”.
                “Keluarga ini telah bersahabat dengan keluarga gadis itu selama bertahun-tahun dan kami tahu Jason suatu hari nanti mungkin akan menikahi salah satu dari kedua anak gadisnya,” ujar Hilda.
                “Bagaimana kalau dia tidak mau?” tanya Elinor penasaran.
                “Kalau begitu Jason bisa melamar Jean Hebden, atau salah satu anak gadis Ainsworths,” kata Hilda, menyebutkan nama keluarga terpandang dan para tuan tanah di desa itu.
                “Menikah demi mendapatkan tanah,” ujar Hilda tegas. “Atau uang. Begitulah cara para keluarga terpandang bisa bertahan selama berabad-abad.”
                Ketika Hilda telah keluar Elinor melihat sekeliling, terkejut menyadari bahwa barang-barangnya yang sangat sedikit itu bisa muat di kamar yang sempit itu. Ia membawa beberapa pakaian, seragam ganti, pakaian “bagus”, beberapa sweter, beberapa pasang jins. Pakaian dalamnya berwarna putih dan sesuai fungsinya tanpa hiasan bunga atau renda.
                Riasan wajahnya pun sama: dipakai hanya jika diperlukan. Tidak berlebihan. Buku-buku yang dibawanya nyaris tidak dapat memenuhi rak buku: beberapa cerita detektif untuk saat-saat santai, tapi kebanyakan buku kedokteran. Ia senang bisa mengetahui perkembangan terakhir di bidang itu.
                Tentu saja ia punya alasan atas kesederhanaan ini. Ia suka bepergian dengan membawa sedikit barang. Ia tidak suka menumpuk barang. Ada banyak alasan.
                Namun di dalam hati ia tahu semua itu tidak cukup untuk merangkum kehidupannya. Kehidupannya yang rapuh. Hatinya yang rapuh. Ia berusaha mengenyahkan pikiran itu, namun tidak dapat sepenuhnya membantah.
                Cermin di dalam lemari memperlihatkan seorang wanita muda yang rapi dan praktis, wajahnya tanpa riasan, dengan sedikit gurat ketegangan di sekitar mulut. Garis-garis halus di antara matanya menceritakan tentang malam-malam panjang yang ia habiskan untuk belajar, hari-hari yang dipenuhi pekerjaan, tahun-tahun tanpa libur, tanpa perasaan, tanpa apa pun.
                Meskipun begitu, kulitnya halus bagai buah persik. Raut wajahnya biasa saja, bibirnya lebar dan berlekuk, dengan sesuatu yang nyaris seksi mengintip di sudut-sudutnya. Jika saja wajahnya lebih ceria sedikit ia mungkin tampak cantik. Jika saja mata birunya bersinar penuh cinta atau tawa mungkin ia akan tampak menggemaskan.
                Namun baginya cinta dan tawa telah mati bertahun-tahun yang lalu.
                Kenangan akan hal itu datang dengan cepat dan memusingkan, dan ia berusaha mengendalikan diri, seperti joki yang berusaha memaksa kuda yang bandel untuk melompat. Kuda itu akan berusaha keras untuk mundur karena tahu yang ada di depan sana hanyalah kesengsaraan dan ketakutan. Tapi sang joki tetap menyuruhnya ke sana.
                Pesta makan malam itu diadakan untuk menyambutnya. Simon dengan bangga mengatakan Jason telah menyerah, sehingga Elinor berusaha mengenyahkan suara hatinya yang mengatakan Jason tidak akan pernah menyerah. Dengan heran, takut, ia bertanya-tanya apa yang telah direncanakan Jason.
                Pada hari pesta, petugas katering berdatangan dan mulai menyiapkan ruang makan, membawa masuk makanan dan minuman dengan keranjang. Di tengah kesibukan itu, kedua kakak-beradik itu masuk ke ruang kerja Jason dan bertengkar sengit hingga salah satunya keluar dari ruangan dengan wajah tegang dan muram.
                “Tidak ada apa-apa, Sayang,” kata Simon, ketika Elinor bertanya. “Hanya Jason yang mencoba menekankan pengaruhnya. Lupakan dia. Pergilah merias dirimu agar kau tampak cantik malam ini.”
                Namun entah mengapa Simon tampak gelisah dan itu membuat Elinor khawatir. Sepanjang hari itu ia beberapa kali memergoki Simon memandangnya dengan penuh pertimbangan.
                Keduapuluh orang tamu semua tersenyum dan menyambutnya penuh minat namun mereka melirik Jason sedikit, seakan-akan penasaran apa yang sedang dipikirkan pria itu. Elinor juga bertanya-tanya apa sebenarnya yang ada di balik senyum Jason. Di tengah kemeriahan pesta, ia merasakan ketegangannya semakin memuncak.
                Setelah makan malam seseorang memainkan piano lalu mereka spontan berdansa. Elinor berdansa dengan Simon, dan mendapat tepuk tangan.
                Lalu Jason maju dan mengulurkan tangannya, mengundang Elinor. Hanya saja itu lebih mirip perintah daripada undangan.
                Ia terkejut melihat betapa lihainya pria itu berdansa. Tentu sangat menyenangkan berpasangan dengan pria itu jika saja Elinor tidak terlalu tegang.
                “Tersenyumlah,” ujar pria itu. “Ini malam kemenanganmu.”
                “Aku tidak merasa menang,” Elinor meyakinkan Jason dengan kesal. “Aku hanya senang. Aku sungguh-sungguh mencintai Simon. Kalau saja kau bisa memercayai itu.”
                Tanpa diduga pria itu berkata, “Aku merasa sangat mudah memercayainya. Hanya saja aku berharap tidak seperti itu.”
                “Lalu kalau kau percaya padaku---“
                “Pernahkah terpikir olehmu kalau Simon itu bukan pria seperti yang kaubayangkan?”
                Secercah harapan muncul, dan senyum pun mengembang di bibir Elinor. Tiba-tiba ia merasa melihat jalan terang.
                “Ada apa?” tanya Jason ketus. “Mengapa ekspresimu seperti itu?”
                “Karena sekarang aku tahu apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu.”
                “Benarkah?” ujar pria itu sinis. “Kalau begitu sudah saatnya kita bicara.”
                Ia mengarahkan Elinor menuju pintu terbuka, lalu membimbingnya masuk ke perpustakaan.
                Bayangan itu berpendar ketika Elinor mengernyit mengingat apa yang terjadi kemudian. Ia tidak ingin mengingatnya. Biarkan saja peristiwa itu di situ. Tentunya tidak perlu membuka kembali luka lama, bukan?
                Tapi ada peri-peri kecil dalam otaknya yang memaksa untuk mengingat kembali, dan mengenang dirinya masuk ke perpustakaan bersama Jason. Ia bukan hanya melihat kedua sosok mereka, tapi juga bagaimana dengan bodoh ia percaya bahwa dirinya telah berhasil meyakinkan pria itu. Ingin rasanya ia mengulurkan tangan dan menarik gadis bodoh itu dari marabahaya yang akan dimasukinya. Namun sekarang ia tak dapat melakukan itu.
                Di dalam perpustakaan mereka saling berpandangan.
                “Jadi coba katakan pengetahuan hebat apa yang berhasil kaudapatkan?” ujar pria itu sinis.
                “Aku baru saja menyadari---kau tahu kalau Simon punya sisi kelam, bukan?”
                Jason terkejut. “Jadi kau menyadari kalau dia punya sisi kelam?”
                “Tentu saja. Semua orang punya.” Rasa percaya diri yang meningkat membuatnya menambahkan, “Kau juga pasti punya.”
                Alih-alih tersinggung, pria itu menyeringai lebar dan berkata, “Ayo lanjutkan. Aku tidak dapat menunggu lebih lama.”
                “Baiklah, aku tidak mengetahui sisi kelamnya. Tapi, dia juga tidak tahu sisi kelamku.”
                “Apa?”
                “Oh, aku memang punya sisi kelam,” ujar Elinor tertawa. “Aku sangat pemarah di pagi hari. Aku tak bisa membayangkan Simon menjadi pemarah, tapi aku sudah siap kalau ternyata perkiraanku salah. Bila kita mencintai seseorang, kita akan mencintai segala sesuatu tentang dirinya---termasuk segala kekurangannya, karena kekurangan itu adalah bagian dari diri orang itu.”
                Lalu ia melantur terus, dengan percaya diri melanjutkan, masuk ke dalam jebakan Jason, melihat raut tak senang di wajah pria itu namun tidak memahaminya.
                Sambil mengernyit pria itu dengan marah berkata. “Kau pikir kau tahu semuanya!”
                “Aku tahu tentang cinta, Jason. Aku cinta Simon dan dia juga mencintaiku, tidak ada yang dapat memisahkan kami. Kami akan berdiri berdampingan menghadapi segala kemungkinan buruk yang akan datang dari dirimu.”
                Karena tambah percaya diri ia tersenyum memandang wajah Jason. Pria itu menarik napas dan alisnya berkerut.
                “Dasar bodoh!” gerutunya. “Dasar anak kecil! Gadis bodoh yang cantik! Kau begitu lugu, polos---Ya Tuhan, beri aku kesabaran!”
                Ia mencengkeram bahu Elinor, menatap gadis itu lekat-lekat. Tiba-tiba ia mendengar suara Simon di aula. Tiba-tiba ia melihat wajah Jason mendadak tegang, seakan-akan pria itu mengambil suatu keputusan, dan detik berikutnya pria itu menarik Elinor dengan keras ke tubuhnya, menyusurkan tangannya ke tubuh gadis itu, lalu menundukkan kepala dan melumat bibitnya.
                Tiba-tiba bayangan itu menghilang.
                Berulang kali ingatannya berhenti pada titik itu, dan baru kembali beberapa bulan kemudian, dengan menampakkan wajah Simon yang pucat dan bingung.
                “Kau berkhianat, dasar perempuan jalang,” teriak Simon. “Kau licik, tidak setia---selama ini kukira kau cinta padaku, tapi kau ternyata mengincar tangkapan yang lebih besar, bukan? Aku percaya padamu!”
                Elinor berusaha membantah, namun pria itu menghentikannya. “Aku mencintaimu, aku telah menyerahkan seluruh hidupku kepadamu, lalu begitu aku membalikkan badan kau pergi ke pelukan kakakku. Apalagi yang telah kalian berdua lakukan?”
                “Tidak ada,” jerit Elinor. “Simon, kumohon---ini tidak seperti yang kaubayangkan.”
                “Bagiku semua sangat jelas. Ya Tuhan, Cindy, bagaimana kaubisa melakukan ini?”
                Semua tamu sepertinya berdiri di belakang Simon, menyimak tuduhan yang mematahkan hati itu, menyaksikan betapa malu dirinya.
                “Dengarkan penjelasanku,” ia memohon sambil terisak.
                “Mendengarkan penjelasanmu! Aku tidak akan mau atau bahkan tidak akan mau tahu tentang dirimu lagi. Enyahlah dari hadapanku.”
                “Cukup!” Jason menengahi. “Kau sudah mengatakan apa yang ingin kaukatakan, Simon. Sekarang pergilah. Sudah selesai.”
                “Ya, sudah selesai,” katanya dengan tersekat. “Selesai, Cindy, selesai! Dan kupikir kau dan kau akan terus bersama.”
                Simon berbalik badan lalu melesat menaiki tangga. Elinor mengikutinya, tapi mendapati pintu kamar pria itu dikunci dari dalam, dan gedorannya yang membabi buta tidak ditanggapi. Akhirnya ia terduduk di lantai, tesedu-sedu.
                Ia tidak tahu berapa lama dirinya berada di sana, namun akhirnya Jason datang dan memberitahu kalau semua tamu sudah pulang.
                Elinor menengadah menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
                “Kau---kau melakukan ini dengan sengaja,” ujarnya tersekat.
                “Ya, aku melakukannya dengan sengaja. Ayo, bangun.”
                Jason meletakkan tangannya di siku Elinor lalu mengangkat wanita itu dengan tegas hingga berdiri. Elinor menurut karena tidak ada lagi yang dapat dilakukannya. Ia tidak memiliki siapa pun selain Simon, dan sekarang pria itu memusuhinya.
                Jason membimbingnya masuk ke kamar, dan dengan tegas berkata, “Kemasi barang-barangmu. Kau akan pulang pagi ini.”
                Elinor masih berharap ia dapat bertemu Simon sebelum pergi, tapi saat subuh ia mendengar suara mesin mobil dihidupkan di bawah jendelanya. Ia berlari dan membuka jendela, tepat saat itu ia melihat mobil Simon melesat pergi.
                Pria itu telah pergi dari kehidupannya untuk selamanya, pria itu dengan salah paham yakin Elinor telah mengkhianati cinta mereka.
                Namun pengkhianatan yang sebenarnya datang dari kakaknya, yang memaksa mencium Elinor, karena tahu Simon akan datang dan menyaksikan mereka. Mengapa, oh, mengapa Simon tidak memahami itu? Mengapa dia dengan mudah percaya pada hal-hal buruk mengenai dirinya?
                Jason berkeras ingin mengantarnya ke stasiun kereta api. Elinor meninggalkan semua hadiah yang diterimanya, semua perhiasan yang pernah diberikan Simon kepadanya.
                Tapi ia meninggalkan lebih dari semua itu: masa muda dan impian, harapan, cinta, dan kepercayaan bahwa dunia tempat yang baik. Semua itu telah dirampas dengan keji dari dirinya.
                Sambil berdiri, ia menatap wajahnya yang tegang dan sedih di cermin, untuk pertama kalinya ia mengerti bagaimana semua ini menghilang dari dirinya dan betapa hampanya wanita yang tersisa.
                Dengan cepat ia menutup pintu dan menuruni tangga.

                 Dapur telah berubah sejak terakhir ia kemari. Dapur yang lama cukup tua untuk dijadikan monumen barang antik. Sedangkan yang baru amat sangat tradisional, dengan langit-langit dari kayu ek dan panci-panci perunggu bergelantungan di dinding. Tapi peralatannya modern, seperti yang ditunjukkan Hilda dengan bangga.
                “Aku harus membujuknya untuk membuat itu,” ujar Hilda seraya menunjuk langit-langit. “Dia suka gaya lama, dan nilai-nilai lama. Tapi aku bilang padanya, dapur ini mungkin cukup baik untuk dipakai memasak oleh Ratu Victoria, tapi tidak cukup bagus untukku.”
                “Apakah Ratu Victoria pernah mengunjungi Tenby Manor?” tanya Elinor.
                “Begitulah desas-desusnya. Aku tidak terkejut. Lagi pula, aku sudah cukup bersabar dengan dapur itu, lalu aku bilang, silakan pilih dapur itu atau aku yang pergi.”
                “Lalu apa jawab Mr. Tenby?”
                “Dia bilang, ‘Hilda, Tenby Manor bisa hancur berkeping-keping tanpa dirimu.’ Kemudian besoknya datang orang ke sini untuk mengukur.”
                Elinor terkejut. Meskipun detail yang agak dilebih-lebihkan sudah dibuang, inti dari pernyataan tadi adalah Jason Tenby mendengarkan permintaan Hilda. Tapi tentu saja, dengan modernisasi ia meningkatkan nilai rumah itu.
                Pintu sebelah luar, yang selama ini dibiarkan sedikit terbuka didorong terbuka lalu seekor anjing spaniel hitam berlumpur masuk ke ruangan.
                “Bob, anak nakal,” teriak Hilda, “di mana kau bersembunyi?” Ia menyodorkan biskuit yang langsung dilahap anjing itu. “Ini anjing Jason. Sekarang tidak ada yang punya waktu untuk bermain-main dengannya, anjing malang, jadi dia menghabiskan waktu dengan menjelajahi halaman.”
                “Anjing Mr. Tenby? Dia tidak---“ Elinor dengan cepat mengingatkan diri sendiri agar tidak berkata Jason tidak punya anjing waktu terakhir kali dia ke sini, dan lekas-lekas mengganti, “Dia tidak seperti orang yang suka punya peliharaan.”
                “Bob lebih daripada sekadar peliharaan. Dia memenangkan banyak penghargaan di pameran anjing.  Daftar silsilahnya sangat panjang. Tampangnya saat ini memang tidak meyakinkan karena dia berlumur lumpur. Tapi dia sebenarnya Lord Robertson Winstanley Mooreswell of Hatley Place,” Hilda mengumumkan dengan bangga, lalu setelah itu menambahkan, “ke delapan.”
                Aku percaya, kata Elinor dalam hati. Bahkan anjing pria itu pun punya silsilah.
                Bob melompat ke arahnya.
                “Jangan dekat-dekat!” kata Elinor ketus. Lalu pipinya memerah dan ia menambahkan, “Kakinya---“
                “Ya, kau tentunya tidak mau kaki yang kotor itu mengenai seragammu yang bersih,” kata Hilda.
                Elinor mengangguk, tapi tidak tersenyum. Untuk beberapa saat sikap bermusuhannya dengan segala macam yang berhubungan dengan Tenby sudah merambah sampai ke binatang tak bersalah yang disayang Jason hanya karena dia punya silsilah yang tidak dimiliki Elinor.
                Untuk menutupi keadaan itu ia mulai bertanya mengenai kondisi rumah. “Rumah ini sangat besar untuk diurus seorang diri.”
                “Aku sebenarnya tidak sendirian. Aku membersihkan kamar Jason karena dia tidak suka ada orang asing di sana, tapi untuk bagian yang lain ada beberapa wanita pelayan yang datang dari desa. Suamiku, Alf melakukan tugas ini-itu dan mengurus taman dapur.”
                Lalu Hilda berkonsentrasi menyiapkan hidangan makan malam dan mengatakan kepada Elinor bahwa santap malam akan siap satu jam lagi.
                “Daging dan dua jenis sayuran, dengan banyak saus,” ujarnya dengan bangga. “Aku memasakkan untuknya setiap hari. Dan puding yang lezat sebagai penutup. Kalau saja dia tidak hanya menyendoknya! Tidak apa. Aku akan membuatnya gemuk lagi.”
                Elinor menahan diri untuk mengatakan Hilda tidak akan bisa membuat Jason gemuk dengan memasak makanan yang tidak dimakannya. Waktunya tidak tepat.
                Dari luar ia dapat mendengar ada seseorang berjalan menuruni tangga, meninggalkan rumah, lalu pergi dengan mobil.
                “Itu pasti manager pabrik,” kata Hilda. “Dia ke sini untuk menerima perintah.”
                “Maksudmu dia selama ini berada di atas dengan Mr. Tenby?” tanya Elinor dengan terkejut.
                “Dia datang ke sini dua kali seminggu. Dr. Harper---dokternya Jason---berusaha melarangnya, tapi Jason menjadi sangat marah sehingga dia terpaksa mengalah.”
                “Kurasa aku sebaiknya berbicara dengan Mr. Tenby.”
               
                Ia mendapati Jason terbaring diam tak bersuara. Sulit untuk mengatakan pria itu tidur atau bangun.
                “Mengapa kau memelototiku?” tanya pria itu dengan kesal.
                “Maafkan aku, aku tidak mengira.”
                “Aku tahu kau di sana. Tidakkah kau menyadari itu hal paling tidak menyenangkan? Orang menatapmu, mengira kau tidak tahu. Orang yang mengira orang buta sama dengan bodoh.”
                “Mr. Tenby, aku tidak ingin kau beranggapan dirimu bodoh---“
                “Tentu! Oke!” katanya ketus. “Aku tidak buta, hanya tidak bisa melihat apa-apa.”
                “Untuk sementara. Itu mungkin bukan permanen, dan lebih baik kau tidak menanamkan dalam otakmu bahwa kau buta.
                Pria itu mendengus. “Kalian para perawat, seharusnya main drama bersama. Perawat yang terakhir justru mengatakan kebalikannya; jangan pernah berhenti menyesuaikan diri dengan kenyataan.”
                “Menyesuaikan diri dengan kenyataan sebelum kau yakin itu benar-benar kenyataan artinya kau menyerah,” kata Elinor dengan tenang.
                Hening.
                “Jadi kau bisa mengatakan hal yang logis tentang sesuatu,” gerutu Jason.
                “Kau akan heran melihat betapa banyaknya hal logis yang bisa kukatakan,” ujar Elinor tegas.
                “Bagus. Kau bisa tinggal di sini sementara. Tapi ada satu hal lagi.”
                “Ya?”
                Tanpa disangka-sangka pria itu meraih tangan Elinor dan menggenggamnya dengan dua tangan.
                “Mr. Tenby---“
                “Jangan bergerak,” ujar pria itu parau.
                Satu tangan masih memegang tangan Elinor sementara yang satu lagi bergerak ke atas menyusuri lengannya dan meraba kerah baju seragamnya. Lalu pria itu melepaskannya.
                “Lepas seragam itu dan pakai sesuatu yang lebih pantas,” perintahnya. “Kau membuatku sakit dengan berdiri di sana memakai seragam itu.”
                “Baiklah, Sir.”
                “’Baiklah, Sir,’” ulang pria itu. “Suaramua begitu dingin, tenang, sabar. Suara yang sangat netral. Demi Tuhan, aku berharap dapat melihat wajahmu saat ini juga.”
                “Wajahku juga netral,” Elinor meyakinkannya. “Perlakukan saja aku seperti mesin.”
                “Di pabrikku ada mesin. Tapi mesin itu berbau oli, bukan bunga liar seperti dirimu.”
                Elinor tersentak. Ia tidak memakai parfum dan tidak memakai sabun wangi. Apa yang dicium oleh pria itu tersembunyi dari dunia.
                “Aku naik ke sini karena tidak setuju ada banyak orang di kamar ini tadi,” kata Elinor cepat-cepat. “Kau masih butuh banyak istirahat dan kurasa kita harus---“
                “Tidak, kurasa kau harus mendengarkan sementara aku memperjelas beberapa hal,” sela pria itu. “Aku sakit sudah lama. Ada banyak perkerjaan yang harus diselesaikan dan tidak ada orang yang dapat kupercaya untuk melakukannya. Jadi jika aku ingin berbicara dengan manager atau pengacaraku aku akan melakukannya. Aku harap itu bisa dimengerti.”
                “Dengan sempurna. Kalau kau merasa kau cukup hebat dalam pekerjaanmu sehingga harus memberi perintah, aku tidak bisa membantahnya.”
                “Jangan sok pintar denganku!” hardik Jason. “Kau perawat, bukan penjagaku. Aku tidak mau dimanja.”
                “Aku senang mendengarnya.”
                “Jadi mengapa Hilda menyuruhmu pindah ke kamar di seberang kamarku? Kalau itu bukan karena ingin memanjakankau, apa namanya?”
                “Itu demi pertimbangan profesional. Sementara kondisimu masih belum baik aku lebih suka berada di dekatmu pada malam hari.”
                “Persetan dengan itu! Kau harus segera pindah dari kamar itu dan kembali ke kamar sebelumnya. Kau dengar?”
                “Aku dengar. Tapi aku tetap di situ.”
                “Kalau begitu aku akan menyuruh Hilda memindahkan barang-barangmu.”
                “Kau tidak akan melakukan itu. Pekerjaan Hilda sudah cukup banyak, tidak usah menempatkannya dalam situasi terjepit seperti itu. Kau ingin bertengkar? Baik! Kita akan bertengkar. Tapi jangan bawa-bawa Hilda.”
                Jason mengertakkan giginya. “Aku rasa takdir tidak berpihak kepadaku! Bukan saja kau harus terbaring di sini, tak berdaya dan tak berguna. Aku juga dikutuk karena ada wanita keji yang berderap ke sini memberi perintah seperti sipir penjara. Aku masih Tuan di sini, kalau-kalau kau tidak menyadari itu.”
                “Aku rasa seluruh dunia pun tahu kalau kau meneriakkannya keras-keras seperti itu,” ujar Elinor tenang.

                “Aku berteriak karena itu satu-satunya cara agar kau mau mendengarkanku. Kau lakukan apa yang kukatakan bila aku mengatakannya, dan itu final. Sekarang pergilah dari sini sebelum aku benar-benar marah.”
           

No comments:

Post a Comment