It's my birthday today. Happy birthday to me hahaha... I've got a lot of birthday wishes from my family and friends, even online friends who I never met. So happy. Of course, I wish all the best for today and all the years to come. I hope God will always be kind to me, grant me good health, happiness, and prosperity.
I'll be waiting for my birthday present now. Don't hesitant to send me, okay
#birthday #personal post
Sora no basho
All about Japanese dramas, movies, and my translation
Saturday, 18 April 2020
Wednesday, 11 March 2020
Meluluhkan Jason
Bab Satu
RUANGAN itu gelap,
dan sangat hening. Pria itu berbaring di tempat tidur dalam keputusasaan yang
bisu mencekam.
Suster Smith memandangi pria itu
beberapa saat sebelum berkata, “Selamat siang, Mr. Tenby.”
Hening. Pria itu mungkin sudah
meninggal.
Mata pria itu dibalut, begitulah
keadaannya sejak kecelakaan yang hampir menewaskan dirinya. Elinor tahu
seberapa parah luka di balik perban-perban itu. Ia menatap tangan yang
diletakkan di atas seprai tempat tidur itu. Tangan yang besar dan tak
berperasaan, persis seperti pemiliknya. Jason Tenby selalu memaksakan
kehendaknya terhadap semua orang yang menghalangi jalannya, tapi hari ini dia
tak berdaya, meminta belas kasihan dari wanita yang menganggapnya musuh.
Elinor Smith menguatkan hatinya. Ia
adalah perawat, yang disumpah untuk melindungi mereka yang sakit dan tak
berdaya, dan saat ini pria itu adalah keduanya. Tak jadi soal apakah pria itu
dulu menghancurkan cinta Elinor sehingga ia selamanya hidup dalam kesendirian
yang hampa. Sudah tugasnya merawat pria itu.
“Aku tidak ingin ada perawat mana
pun lagi,” kata pria itu dengan letih.
“Saya tahu. Saya sudah diberitahu
oleh agen saya.”
“Dua perawat terakhir melarikan
diri.”
“Maksud Anda mereka minta berhenti
dengan penuh harga diri.”
Jason Tenby menggeram. “Kau juga
sudah mendengar tentang itu?”
“Pemimpin agensi telah menceritakan
semuanya kepada saya. Dia bilang lebih adil kalau dia memperingatkan saya
tentang Anda.”
“Supaya kau hanya bisa menyalahkan
diri sendiri karena mengabaikan peringatan itu.”
“Benar. Saya hanya dapat menyalahkan
diri sendiri.”
“Aku ingin tahu, berapa lama lagi
kau akan kabur?”
“Anda tak bisa dengan mudah mengusir
saya.” Ia berusaha menyelami keadaan, karena tahu pendekatan yang lugas lebih
bisa diterima oleh pasien ini. Simpati hanya akan membuat Jason marah. Dia
sudah di ambang batas ketahanannya, berusaha keras mempertahankan kewarasannya
yang hampir hilang.
Elinor melihat ke sekeliling kamar
tidur Jason yang bergaya kuno, dengan tempat tidur dan perabotan berat dari
kayu ek. Karpetnya berwarna cokelat tua sedangkan tirainya berwarna merah bata menggantung
di jendela-jendelanya yang tinggi.
Ruangan itu amat sangat memancarkan
jiwa maskulin, tak ada sesuatu pun yang lembut atau lunak. Pria yang tinggal di
rumah mewah ini tidak terlalu memedulikan barang-barang pribadi. Pria yang
keras. Pria yang kaku di gurun pasir yang kaku.
“Dan namamu?” tanya Jason akhirnya.
“Suster Smith.”
“Yang kumaksud nama depanmu.”
“Saya rasa untuk saat itu Suster
Smith saja sudah cukup.”
“Suka
yang formal, ya?
“Memudahkan
Anda kalau mau memarahi saya.”
“Sepertinya
benar. Bagaimana rupamu?”
“Saya
mengenakan seragam putih dan topi suster warna putih. Serta sepatu datar warna
hitam.”
Dalam
keheningan panjang yang muncul sesudah itu, Elinor dapat merasakan pria itu menilai
dirinya.
“Demi
Tuhan, kau dingin sekali!” kata pria itu akhirnya.
“Saya
di sini untuk menolong Anda, Mr Tenby. Hanya itu yang terpenting. Saya ingin
melihat Anda bangkit dan berjalan lagi, seperti dulu.”
Suara
Jason terdengar getir. “Dan kau benar-benar mengira itu akan terjadi? Sudahkah
kau membaca catatan itu?”
“Ya.
Ada kebakaran di kandang kuda. Anda masuk untuk menyelamatkan seekor kuda lalu
langit-langitnya menimpa Anda.”
Jason
menggeram lagi. “Kuda sialan itu bahkan tak berada di sana. Seseorang telah
mengeluarkannya.”
“Pasti
berat menderita semua ini karena sesuatu yang sia-sia,” Elinor setuju.
“Anda beruntung karena luka bakarnya tidak parah.”
“Anda beruntung karena luka bakarnya tidak parah.”
“Ya,
orang-orang terus berkata betapa beruntungnya aku,” kata sosok yang tak tampak oleh mata di atas
tempat tidur.
“Tubuh
Anda sebagian terlindung oleh
balok yang menimpa Anda. Berkat balok itu luka bakarnya hanya di permukaan dan
sekarang mulai sembuh. Begitu pula tulang rusuk Anda. Tulang belakang Anda
cedera, tapi dengan sedikit keberuntungan tak lama lagi akan sembuh.”
“Kau hanya mengatakan kalimat yang sama seperti
yang dikatakan mereka. Tapi sebenarnya kau sendiri pun tak percaya.”
Benar. Elinor sama sekali tidak yakin Jason
akan dapat melihat atau berjalan lagi. Tapi pria itu harus diyakinkan bahwa dia
masih punya harapan.
“Saya yakin semua itu akan terjadi jika kita
saling membantu,” ucap Elinor tegas. “Dan itulah yang akan kita lakukan.”
Tiba-tiba alis Jason bertaut dan ia menutup
matanya yang diperban dengan tangannya. Elinor dapat melihat bahwa sesuatu yang
sangat penting dalam diri pria itu telah membuka.
“Demi Tuhan, pergi!” hardik pria itu dengan
suara bergetar. “Biarkan aku sendirian.”
“Tentu.” Elinor menutup pintu dengan tegas agar
Jason dapat mendengar bahwa ia telah pergi.
Mrs. Hadwick, sang pengurus rumah tangga,
sedang menunggu di lorong.
“Semua koper Anda telah dibawa ke atas, Miss,”
ujarnya. “Saya akan menunjukkan jalan.”
Karena ia tadi tegang memikirkan akan bertemu
Jason, Elinor memutuskan untuk mengunjungi Jason terlebih dulu sebelum pergi ke
kamarnya. Sekarang ia mengikuti sang pengurus rumah tangga berjalan di
sepanjang lorong lalu membelok di sudut. Dan, dengan terkejut, ia menyadari ke
mana ia akan pergi.
“Kamar ini---“ katanya.
“Ini kamar tamu terbaik,” ucap Mrs. Hadwick
sambil mendorong pintu hingga membuka. “Saya akan membawakan teh Anda ke atas.”
Ia lalu menghilang.
Kamar itu besar dan mengesankan, dengan tempat
tidur bertiang empat diletakkan di tengah-tengahnya. Di ruangan itu juga ada
meja rias, meja biasa dan kursinya, serta sebuah kursi berlengan yang besar dan
empuk. Dua jendela tinggi dengan tirai-tirai yang menyapu lantai. Tak ada yang
berubah sejak terakhir kali ia tidur di sini, enam tahun yang lalu.
Sampai saat ini ia berhasil mengendalikan
kenangannya, tapi di dalam kamar itu semua kenangan itu seakan menyerbu masuk.
Simon seakan sedang bersamanya, begitu muda dan
tampan, penuh cinta dan gairah, sebagaimana pria itu pertama kali membawanya ke
rumah ini sebagai calon pengantin. Waktu itu Simon mengemudi sambil
melingkarkan satu tangan ke pundaknya dan tangan yang lain memegang kemudi
mobil balapnya yang kemilau dan baru. Mereka melaju di sepanjang jalan yang
dinaungi pohon ek sampai tiba-tiba rumah itu muncul di hadapan mereka, dan
Elinor terkesima melihat keindahan serta kemewahannya.
“Simon, aku tak pernah membayangkan---itu
rumahmu?”
“Ada apa dengan rumah itu?”
“Aku tak pernah melihat rumah seperti itu. Aku
tumbuh di rumah kumuh yang saling berimpitan di tengah kota. Ibuku tukang
bersih-bersih di pabrik ayahmu.”
Simon tertawa. “Yang benar? Ceritakan padaku.”
“Ibuku biasanya mendapat giliran kerja pagi
hari. Suatu hari Ibu membawaku bersamanya. Itu melanggar peraturan, tapi kalau
tidak begitu aku terpaksa tinggal sendirian di rumahku yang kosong. Kami nyaris
tidak ketahuan, tapi suatu pagi aku tak sengaja bertemu kakakmu.”
“Jason? Maksumu kalian pernah bertemu? Apa dia
masih ingat kepadamu?”
“Saat itu umurku delapan tahun. Dia tidak akan
mengenaliku setelah sekian tahun. Kau tidak boleh memberitahunya. Janji.”
“Aku janji.”
“Sumpah mati. Ya ampun, seharusnya aku tidak
menceritakan kepadamu.”
“Sayangku, kau membuatku sedih. Kalau kau tak
dapat mempercayaiku, siapa lagi yang dapat kaupercaya?”
“Oh, aku tidak bermaksud begitu. Sungguh. Tentu
saja aku percaya padamu, tapi kau tahu kan? Tempatku bukan di sini.”
“Tempatmu adalah bersamaku,” kata Simon tegas.
Ia amat mencintai Simon. Hingga rasanya
tubuhnya yang langsing itu bisa pecah berkeping-keping akibat sedemikian besar
kekuatan cintanya.
Ketika mereka semakin dekat ke rumah itu ia
melihat seorang pria jangkung berdiri di anak tangga. Pria itu masih remaja
waktu Elinor pertama kali melihatnya di pabrik, tapi ia tak kesulitan mengenali
pria itu lagi sebagai Jason Tenby.
Tinggi pria itu pastilah seratus sembilan puluh
sentimeter dengan bahu bidang. Kehadirannya menyiratkan keagungan yang pastilah
lebih berhubungan dengan auranya daripada sosoknya sendiri. Rambut pria itu berwarna cokelat tua
dengan sedikit sentuhan merah, kulitnya gelap seakan-akan dia sering menghabiskan
waktu di luar ruangan. Dia mengenakan celana berkuda dan jaket wol, cara
berdirinya santai dengan satu kaki berada di anak tangga terbawah. Tangannya
dibenamkan ke dalam kantong. Pria itu benar-benar seperti pemimpin keluarga
yang sedang mengawasi pasukan yang menyerbu kediamannya, memperkirakan besarnya
ancaman yang datang.
“Apa kabar, Miss Smith?” Suara pria itu
terdengar dalam dan hidup. Apakah perasaannya tidak salah kalau ia merasa suara
pria itu terdengar menyindir, seolah-olah pria itu
mengejek namanya yang begitu pasaran?
Jabatan tangan pria itu begitu mantap. Tangan
Elinor yang mungil tertelan genggaman tangan pria itu yang sangat besar, dan ia
nyaris terkesima merasakan kekuatan genggamannya dan rasa berkuasa yang
terpancar darinya.
Elinar ingat setiap kejadian pada malam pertama
ia berada di Tenby Manor. Itulah kali pertama ia berada di rumah yang
penghuninya berdandan dulu sebelum makan. Setidaknya, pikir Elinor, aku bisa
menyesuaikan dengan lingkunganku karena tadi telah membawa gaun panjangnya yang
mahal dan kalung bermata safir yang halus, keduanya hadiah dari Simon. Simon
begitu tampan dalam balutan jas makan malam dan dasi hitam. Meskipun demikian,
mata penuh cinta Elinor dapat melihat Simon tertutup bayang-bayang abangnya.
Simon berusia dua puluh tahun, langsing dan
penuh semangat, dengan wajah tampan kekanak-kanakan dan selalu berbicara dengan
cepat. Sedangkan Jason berusia dua puluh delapan tahun dengan tutur kata yang
perlahan dan penuh pertimbangan serta aura berkuasa yang jauh melebihi umurnya.
Simon membuatnya terpesona. Jason membuatnya
kagum.
Hanya sedikit kemiripan di antara abang beradik
itu. Wajah Jason sudah tampak keras karena sarat pengalaman. Mulut dan dagunya
tampak kokoh yang menandakan pria itu tidak sabar menghadapi orang bodoh, atau
siapa pun yang tidak mematuhinya. Namun ketika dia santai mulutnya bisa
melengkung, menyiratkan kejenakaan, sensualitas, bahkan pesona. Elinor selalu
gugup bilamana pria itu menatapnya karena mata pria itu begitu kelam seakan dapat
melahap cahaya, sehingga jalan pikiran pria itu sangat sulit dibaca.
Pada dinding-dinding ruang makan yang besar itu
berjajar potret leluhur Tenby, dan di bawah tatapan penuh selidik mereka Elinor
pastilah akan salah menggunakan garpu dan pisau, atau menyenggol salah satu
gelas kristal. Tapi ternyata yang terjadi tidak seperti yang ia takutkan. Jason
berbicara cukup sopan kepadanya, dan tidak memperlihatkan tanda-tanda mengenali
dirinya. Setelah itu Jason mengajaknya melihat-lihat rumah yang besar itu kemudian
mereka duduk mengobrol di perpustakaan.
“Jadi bagaimana kau bisa bertemu adikku?” tanya
pria itu seraya mengulurkan segelas sherry.
“Memangnya Simon belum cerita?”
“Aku ingin mendengar
versimu. Simon cenderung suka---apa istilahnya---mendramatisir?”
Elinor mengangguk.
“Daya imajinasinya memang hebat,” katanya dengan penuh semangat. Bagi kakaknya
yang muram kecenderungan Simon untuk hanyut dalam suasana pasti terasa
menyebalkan, tapi bagi Elinor yang menjalani hidup membosankan sifat Simon itu
malah dianggap kelebihannya.
“Hebat,” ulang Jason.
Lalu, tanpa disangka-sangka, pria itu menyeringai. Elinor tak dapat menahan
diri untuk balas tersenyum, dan selama sesaat, rasa saling mengerti berkelebat
di antara mereka.
“Aku bekerja di toko
sepatu,” tutur Elinor dengan sedikit menantang. “Dan suatu hari Simon datang
untuk membeli sepatu.”
Waktu itu Simon tinggal
di tokonya selama dua jam dan pulang membawa lima pasang sepatu---“habis aku
tak dapat melepaskan pandanganku dari wajahmu yang manis itu”, begitu katanya
pada Elinor ketika mereka berdua pergi makan malam.
“Apakah kau pernah
melakukan pekerjaan lain?” tanya Jason.
“Aku sedianya akan
kursus perawat, tetapi ibuku jatuh sakit dan aku harus tinggal di rumah untuk
menjaga Ibu sampai beliau meninggal.”
“Jadi kau belum mulai
kursus?”
“Well---lalu aku
bertemu Simon,” Elinor menjelaskan, dan tak ada yang dapat menghentikan senyum
lembut itu untuk mengembang di bibirnya.
Ia mendengar suara
seperti orang terkesiap dan cepat-cepat mengangkat kepala lalu melihat Jason
sedang menatapnya, lekat-lekat.
“Apa pekerjaan ayahmu?
tanya pria itu tiba-tiba.
“Ayah sudah meninggal
10 tahun yang lalu.”
Joe Smith terjatuh di
selokan ketika berjalan pulang ke rumah sambil mabuk dari pub, lalu tertidur di
genangan air dan tidak pernah bangun kembali. Elinor dapat membayangkan apa
tanggapan pria tegas ini terhadap ceritanya tadi.
Sambil bercerita ia
melihat Jason mengerutkan kening, dan tiba-tiba pria itu mencondongkan tubuh ke
arahnya dan berkata, “Kau benar-benar putri Brenda Smith. Awalnya aku tak
percaya---“
Akhirnya pria itu
mengenaliku, pikir Elinor putus asa.
“Ya, aku---benar---“
“Dan kita pernah
bertemu di pabrik. Well, well! Mau sherry lagi?”
Ketika Elinor menyesap
anggurnya pria itu tiba-tiba bertanya, “Apa yang membuatmu memilih baju itu?”
Karena tidak siap,
Elinor menjawab seadanya dengan jujur. “Simon yang memilihkan.”
“Sesuai perkiraanku,”
jawab pria itu datar. “Dan yang membelinya juga, aku berani bertaruh.”
“Aku tidak memintanya
untuk---“
“Tidak usah mengatakan
apa pun. Aku mengenal adikku. Baju itu terlalu kuno dan mewah untukmu.”
“Ku---kupikir baju ini
pantas,” gagap Elinor.
“Maksudmu kaupikir kau
harus berdandan dan berpura-pura menjadi bukan dirimu sendiri. Ide brengsek!
Kaupikir siapa yang kaubohongi?”
Pipi Elinor memerah.
Jason melihatnya lalu menambahkan dengan lebih lembut, “Jangan dimasukkan ke
hati. Aku orang yang lugas---kasar, menurut beberapa orang---dan berbicara
seadanya. Dan, dengan kata-kata yang sederhana, kau dan Simon tidak cocok.”
“Kau bisa mengatakan
begitu hanya dalam semalam.”
“Aku bisa mengatakannya
hanya dengan melihat semenit.”
Dengan lega Elinor
melihat Simon datang mencari mereka. Jason tidak berkata apa-apa lagi, dan
membiarkan Simon membawa Elinor berjalan-jalan di taman.
“Dia mengenaliku,” kata
Elinor, dengan cemas. “Dia selama ini tahu aku siapa. Ini tidak lucu---“ Simon
terkekeh.
“Maafkan aku, Sayang,”
Simon tertawa kecil. “Apa yang sebenarnya dia katakan?”
“Katanya, ‘Kau
benar-benar putri Brenda Smith. Mula-mula aku tak percaya---‘. Oh, Simon,
tidakkah kau mengerti apa artinya? Dia sudah mengetahuinya sejak makan malam
dan dia hanya diam saja sampai merasa siap.”
“Apakah dia mengatakan
kepadamu apa yang membuatnya tahu?” tanya Simon dengan nada penasaran.
“Tidak. Oh, memangnya
itu penting? Dia menertawaiku sepanjang waktu.”
“Dia senang merasa
lebih daripada orang lain,” Simon sependapat.
“Apa lagi yang dia
katakan?”
“Bukankah itu sudah
cukup? Dia benci padaku karena aku tidak punya ‘latar belakang’”
Gema tawa Simon yang
menemaninya bertahun-tahun ini meliputinya. Betapa muda dan ceria Simon waktu
itu! Betapa murah hati dan memesona! “Siapa yang peduli pada masa lalu?”
Namanya Elinor Lucinda,
tapi Simon memanggilnya Cindy. Cindy sebagai singkatan dari Lucinda, tapi
juga---
“Cindy singkatan dari
Cinderella,” godanya. “Cinderella mungilku.”
Ia tertarik pada
kemiskinan Elinor. “Aku senang bisa memberimu berbagai hal,” katanya pada malam
mereka pertama kali bertemu sambil berjalan di bawah pepohonan. “Aku akan menyelimutimu
dengan berlian.”
“Tapi aku tidak ingin
berlian. Aku hanya ingin cintamu, sayangku. Tidak ada yang lain selain
cintamu.”
“Kau bisa mendapatkan
itu juga, diikat dengan pita besar cemerlang, berikut semua hal yang kauminta.”
Karena sangat bahagia,
Elinor tidak menyadari mereka telah sampai di rumah dan sedang berjalan
melintasi aula. Baru saat itu ia melihat Jason yang sedang berdiri di tangga,
cukup dekat untuk mendengar janji-janji muluk Simon. Tapi suara Elinor sendiri
lebih pelan, dan Jason mungkin tidak mendengar protes lembutnya tadi.
Elinor dapat melihat
sekilas wajah Jason, kelam dan marah, sebelum pria itu berbalik badan.
Jason tidak pernah
menceritakan apa yang tak sengaja didengarnya tadi, tapi dalam berbagai cara ia
menegaskan bahwa dalam hal keuangan Simon bergantung padanya. Dan Simon
mengakuinya.
“Aku mendapat bagian
cukup besar dalam surat warisan Ayah, tapi Jason-lah yang memegang kendali
sampai aku berusia 25 tahun,” ia menjelaskan sambil mengangkat bahu. “Lalu
memangnya kenapa? Memangnya dia bisa menghentikanku memakai kartu kredit? Lalu
bila kartunya sudah dipakai, memangnya dia bisa tidak membayarnya? Lagi pula
ini kan uangku. Jangan khawatir soal itu.”
Itulah falsafah
kehidupan Simon. Jangan khawatir soal itu. Dan entah mengapa semua selalu
berjalan seperti yang diinginkan Simon. Karena terpesona, seperti sekarang ini,
sangat mudah untuk percaya akan falsafah hidup Simon.
Elinor curiga bukan
suatu kebetulan kalau kamar tidur mereka berada di kedua ujung yang
berseberangan dari rumah besar itu. Sebenarnya sikap hati-hati Jason tidak
diperlukan. Gadis muda itu belum menyerahkan diri sepenuhnya ke pria yang ia
puja, dan ia akan lebih mencintai Simon jika pria itu menghargai keinginannya.
Hari saat mereka akan menyatu secara jiwa dan raga akan tiba tak lama lagi.
Tapi untuk saat ini Elinor lebih suka menunggu saat itu tiba dengan penuh
harap.
Jadi keputusan Jason
untuk menjauhkan adiknya dari tempat tidur Elinor adalah suatu penghinaan. Itu
sama saja dengan mengatakan Elinor seorang penipu. Dan setidaknya ia mendengar
kata-kata itu keluar langsung dari mulut Jason. Ia secara tak sengaja memergoki
kedua kakak-beradik itu dan mendengar suara Jason.
“Dasar bodoh. Kau tidak
akan dapat mendekati kamarnya karena aku sendiri yang akan memasang kerangkeng
di sana… Hal yang paling tidak kuharapkan adalah gadis itu hamil…”
Elinor kabur sebelum
mereka memergokinya. Ia sebenarnya ingin pergi dari Tenby Manor, namun ada
tekad kuat di bawah sosoknya yang lembut itu, dan itu membuatnya memutuskan
untuk tetap tinggal dan berjuang demi cintanya. Ya, bahkan kalau ia harus
melawan Jason Tenby sendiri. Dan ia tahu pria itu adalah lawan yang tangguh.
“Mengapa kau tidak
melepaskan Simon?” tanya Jason. “Kau akan menemukan orang yang lebih cocok denganmu.”
“Aku tidak pernah
mencintai siapa pun selain Simon,” jawabnya dengan berapi-api.
“Kalau begitu kau
sungguh bodoh.”
“Dan Simon? Apakah dia
juga bodoh?” tanya Elinor, lebih berani daripada perasaannya.
“Ya karena dia
memercayai cinta yang sama sepertimu. Aku pernah melihatnya jatuh cinta. Dia
menyukai tahap romantisnya, memuja gadis itu, membelikannya hadiah tanpa
meminta imbalan.”
Pria itu mengatakan
kalimat terakhir tadi sambil mencibir sehingga Elinor tersinggung dan tanpa
sadar berkata, “Aku tak percaya kau tidak meminta imbalan.”
“Kalau begitu kau
pandai menilai sifat orang,” katanya sambil menyeringai. “Bagian romantisnya
memang bagus, tapi akulah nantinya yang harus menghiburnya saat dia patah hati,
hal-hal yang membosankan.”
“Tapi kau salah paham,”
ujar Elinor penuh semangat. “Aku mengerti mengapa kau sangat peduli pada
adikmu, tapi aku tidak akan membuatnya patah hati---“
“Hanya ingin
menghabiskan rekeningnya, kan?”
“Itu hal terjahat untuk
dikatakan---“
“Dengar, aku sudah
melihat hadiah yang dia berikan untukmu---semua dibeli dengan uang yang bukan
miliknya.”
“Aku tidak memintanya
untuk---“
“Tentu saja tidak. Kau
tidak perlu mengatakannya. Dia suka pamer. Well,
aku juga bisa murah hati---untuk suatu tujuan.” Pria itu menyebutkan sejumlah
uang.
“Kau mau menyogokku?”
tanya Elinor dengan marah.
Jason mengangkat bahu.
“Terserah bagaimana kau mengatakannya. Itu tawaran yang bagus.”
“Dan bagaimana dengan
harga diriku? Bagaimana aku bisa mendapatkannya kembali?”
“Pertanyaan bagus. Aku
akan menaikkan tawarannya, tapi sedikit saja.”
“Kau boleh menaikkannya
dua kali lipat dan aku tetap tidak berminat.”
“Tidak, jangan terlalu
jual mahal. Aku tidak akan menaikkannya dua kali lipat.”
Dengan marah Elinor
berderap keluar, namun pada detik terakhir ada sesuatu yang membuatnya
membalikkan badan untuk menatap Jason, yang berdiri di sana sambil menatapnya
dengan pandangan menilai.
Elinor terbiasa bangun
pagi dan ia senang bangun diiringi matahari terbit lalu melihat ke luar jendela
dan melihat matahari menyinari estat Tenby. Pada saat itu ia dapat melupakan
segala ketegangan yang mengelilingi dirinya, menodai tempat yang indah ini.
Namun suatu hari, pagi
yang indah itu akhirnya ternodai, oleh sosok Jason yang berderap menapaki jalan
setapak yang dinaungi pohon ek sambil menunggangi Damon, kuda jantan hitamnya
yang besar. Simon menamakan kuda itu “binatang buas yang berusaha membunuh
siapa pun yang mendekatinya”, namun Jason duduk di atasnya dengan mudah
seakan-akan itu kuda poni.
Pria itu tidak mengenakan
jaket, dan lewat kemejanya yang tipis Elinor dapat melihat otot-ototnya yang
menegang dan mengendalikan kuda besar itu tanpa susah payah.
Dia pikir dia bisa
mengendalikan semua hal, pikir Elinor---estat, adiknya, seluruh dunia. Tapi
Elinor tidak akan membiarkan pria itu mengendalikannya.
Beberapa saat kemudian
pria itu berhenti di bawah jendela Elinor.
“Kau bisa berkuda?”
tanyanya.
“Aku---ya, bisa,” jawab
Elinor.
“Bagus. Akan kucarikan
kuda.”
Elinor telah melakukan
kesalahan besar. Ibunya dulu pernah bekerja di rumah seorah pria yang memiliki
seekor kuda poni tua yang gemuk. Pria itu membiarkan Elinor bermain dengan kuda
itu, dan ia belajar untuk memakaikan sadel lalu duduk di punggung kuda poni
sementara kuda itu berjalan pelan. Dan ia mengira itu sama dengan
menunggang kuda.
Elinor tampak cantik
mengenakan pakaian berkuda milik adik perempuan Jason yang baru saja menikah,
namun nyaris dengan segera ia tahu dirinya telah melakukan sesuatu yang sangat
bodoh. Kuda itu harus ditunggangi dengan benar. Dan ia tidak tahu caranya.
Kejadian berikutnya
akan selalu menghantuinya dengan rasa malu.
Kuda itu sama sekali
tidak mengacuhkannya, berjalan seenak sendiri, sementara Elinor tambah lama
tambah tersiksa dan malu. Satu-satunya usahanya untuk mengendalikan kuda itu
membuat kuda itu berderap menuju sungai di dekatnya lalu berhenti tiba-tiba
sehingga Elinor terjatuh ke air.
Jason-lah yang
menariknya keluar dari air. “Kenapa kau berpura-pura bisa menunggang kuda?”
tuntutnya tak percaya. “Dasar bodoh!”
“Aku bisa menunggang
kuda, tapi bukan yang seperti itu,” Elinor berkeras sambil merapikan jaketnya
yang basah kuyup. Di baliknya ia mengenakan sweter tipis yang sekarang juga
basah kuyup.
“Apa maksudmu, ‘kuda
yang seperti itu’?” hardik Jason. “Ini kuda dan tidak ada apa-apa di antara
kedua kupingnya. Ini biasa ditunggangi anak-anak, dengan asumsi anak itu tahu
apa yang dilakukannya. Kau dulu belajar naik apa, kuda-kudaan?”
“Hentikan!” teriak
Elinor. “Berhentilah merundungku.”
“Merundungmu, dasar
bodoh? Aku berusaha mencegahmu melakukan kesalahan fatal dalam hidupmu.”
Tiba-tiba pria itu seperti kehilangan kesabaran, dan mencengkeram erat-erat bahu
Elinor. “Berhentilah menjadi orang lain, kau dengar itu? Pergilah dari sini
selagi kau bisa. Simon bukan pria yang tepat untukmu.”
“Biar aku yang
memutuskan itu. Simon mencintaiku dan aku mencintainya.”
Jason menggeleng lemah.
Elinor berusaha melepaskan diri namun Jason mempererat cengkeramannya. “Cinta,”
katanya dengan penuh dendam. “Apa yang kautahu tentang cinta?”
Mereka saling menatap,
sekarang keduanya sama-sama marah. Elinor tak dapat percaya dirinya bisa
semarah ini. Biasanya ia bersikap manis terhadap kesalahan, tapi tiba-tiba
kendali dirinya lenyap dan amarah yang hebat menggelegak di dalam dirinya, menyapu
segala yang ada di depannya, mengejutkannya. Dan itu juga mengejutkan lawannya.
Elinor dapat melihatnya di mata Jason, seakan-akan ada sesuatu yang tak terduga
menerjangnya.
“Hei !”
Suara Simon mengejutkan
mereka berdua. Pria itu berkuda mendekati mereka sementara mereka berdua tak
menyadari. Jason mengumpat pelan lalu melepaskan Elinor. Simon turun dari
kudanya lalu memakaikan jaketnya ke tubuh Elinor. Jason kembali ke atas kudanya
lalu berderap pergi tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Malam itu Simon
mengukir inisial mereka di pohon ek, mencium Elinor, dan berkata, “Aku bisa
saja meninjunya karena memegangmu seperti tadi. Apakah kau tau kau tampak
nyaris telanjang karena tercebur ke air?”
Pipi Elinor merona dan
ia tertawa. “Kau tak perlu cemburu kepada kakakmu. Dia pria terakhir yang akan
kulihat. Aku tidak mengerti bisa ada wanita yang suka padanya.”
“Jason tahu bagaimana membuat
dirinya menyenangkan bila ia merasa perlu. Tapi bila dia mau membuat dirinya
menyebalkan---hati-hati saja!”
“Dan dia sekarang
membuat dirinya menyebalkan,” gumam Elinor. “Tapi itu tidak berpengaruh pada
kita, ya kan?”
“Kita tidak akan
membiarkannya,” Simon berjanji.
Betapa percayanya ia
pada janji Simon bahwa pria itu dapat menyelesaikan semua masalah! Bila sekarang
dilihat kembali, betapa polos dan menyedihkan kepercayaannya itu! Jason
berhasil memisahkan mereka karena pria itu telah bersumpah akan melakukannya,
dan tekad pria itu sudah bulat.
Tapi Elinor tidak
pernah membayangkan Jason akan melakukannya dengan cara yang amat kejam, licik,
dan menjijikkan?
Ketika melihat sekeliling kamar tidur, Elinor tahu dirinya sudah gila
karena kembali kemari, ke tempat kenangan pahit mengejeknya dari setiap sudut.
Awalnya ia menolak pekerjaan ini, lalu pekerjaan ini diberikan kepada orang
lain. Tapi dua hari yang lalu perawat itu mendapat masalah keluarga. Kepala yayasan
memohon kepadanya agar menggantikan wanita itu, dan Elinor memutuskan mungkin
sudah saatnya ia memerangi rasa takutnya.
Wajah pertama yang
menyambutnya bukan wajah hantu. Mrs. Hadwick telah bekerja untuk keluarga Tenby
sepanjang hidup, tapi wanita itu sedang cuti waktu Elinor datang tempo hari.
Keputusannya untuk
tidak memberitahu Jason siapa dirinya sebenarnya hanyalah dorongan sesaat.
Smith adalah nama yang sangat umum sehingga pria itu tidak akan mengenalinya
hanya dari nama itu saja. Bahkan Elinor pun mungkin tidak dikenali pria itu.
Pria itu mengenalnya sebagai Cindy.
Ia melakukan itu demi
Jason. Memberitahu pria itu hal yang sebenarnya hanya akan membuat pria itu
tambah tertekan, padahal tanpa hal itu pun pria itu sudah cukup tertekan.
Elinor pun merasa
tertekan. Ia bersumpah akan kembali, dan ia menepatinya, sebagai pembangkangan terhadap perintah Jason.
Sekarang ia merasa
tidak enak. Dulu dia membuat sumpah itu dalam keadaan sedih dan marah, tapi
setelah bertahun-tahun semua amarah itu telah sirna, digantikan dengan tekad
untuk menjadi wanita sukses. Ia bekerja siang dan malam agar mendapat
kualifikasi sebagai perawat.
Ia tidak punya
kehidupan sosial. Ia tidak menginginkan cinta. Sementara gadis-gadis lain
berpacaran, ia belajar, dan lulus dengan nilai nyaris tertinggi di kelasnya.
Sekarang ia telah
menjadi wanita profesional yang anggun dan berwibawa. Tidak ada satu pun yang
dapat menghubungkannya dengan gadis canggung yang datang ke Tenby Manor tempo
hari.
Atau begitulah yang ia
kira, sampai ia melihat musuhnya lagi.
Waktu kembali berputar
dan ia terkenang akan pertemuan pertama mereka, ketika ia menggenggam tangan
Simon untuk mencari kekuatan. Lalu ia ingat dirinya adalah Suster Smith,
perawat yang sangat cakap dan laris. Dan Jason Tenby adalah pria lumpuh, yang
memerlukan bantuan, jika pria itu ingin sembuh seperti semula.
Mengetahui hal itu tidak membuat Elinor senang, ia
malah cemas karena bebannya terasa terlalu berat.
Lalu ia mendorong perasaan itu jauh-jauh. Ia telah belajar untuk menjadi kuat demi dirinya sendiri. Sekarang ia harus menjadi kuat demi pasiennya. Itulah Jason. Pria itu hanya seorang pasien.
Lalu ia mendorong perasaan itu jauh-jauh. Ia telah belajar untuk menjadi kuat demi dirinya sendiri. Sekarang ia harus menjadi kuat demi pasiennya. Itulah Jason. Pria itu hanya seorang pasien.
Bab Dua
KETIKA pintu telah tertutup di belakang Suster Smith,
Jason Tenby berbaring dalam kegelapan, berusaha mendengarkan. Tubuhnya sakit
karena tegang, kepalanya berdenyut-denyut, dan keheningan itu seakan berdengung
di telinganya.
Ia
berharap dapat memaksa dirinya agar tenang, tapi ia tidak tahu caranya. Sejak
lahir ia telah menjadi ahli waris Tenby, memikul beban pengharapan Tenby.
Ayahnya meninggal waktu ia berusia 22 tahun meninggalkan warisan berupa
kewajiban seumur hidup yang sangat berat yang harus ia pikul di bahunya yang
kecil.
Ia
harus melebarkan bahunya untuk memikul beban itu. Tradisi keluarga membuatnya
bertanggung jawab secara pribadi terhadap setiap pekerja di lahan dan
pabriknya. Sudah tugasnya untuk menjamin selalu ada pekerjaan untuk mereka.
Seumur
hidupnya Jason tidak pernah lalai dari kewajiban ini.
Dia
membayar semua utang dan
membuat propertinya lebih menguntungkan daripada sebelumnya, tapi semua itu akhirnya
berpengaruh bagi dirinya. Ia tidak pernah secara sadar bersenang-senang, ia
menyisihkannya untuk masa depan, dan sekarang ia nyaris tak ingat kapan.
“Jangan
pernah membiarkan siapa pun---dan terutama wanita---mengetahui dirimu lebih
daripada kau sendiri,” kata ayahnya. “Kau pemimpin. Tidak boleh ada orang yang
lebih baik daripada dirimu.”
Selama
bertahun-tahun ia berusaha memahami arti dari nasihat itu. Dan ia menambahkan,
‘Jangan biarkan dunia tahu bahwa kau takut’. Ia telah merasakan banyak rasa
takut. Takut karena tidak cakap dalam pekerjaannya, takut orang-orang merasa ia tidak cakap dalam
pekerjaannya.
Tapi
tidak ada satu pun yang menyiapkannya untuk menghadapi rasa takut yang
dialaminya sekarang. Rasa takut itu membuntutinya di kegelapan siang. Menunggu
untuk menerkamnya di saat ia tidur.
Rasa
takut itu mengisi kekosongan dalam hidupnya. Membuatnya takut pada mimpi buruk.
Takut pada masa depan, pada orang-orang yang hanya dapat didengar namun tidak
dapat dilihat, pada para tenaga medis karena mereka tahu sesuatu yang tidak ia
ketahui.
Para
perawat datang dan pergi, mundur karena amarahnya. Tapi hari ini datang
seseorang yang tidak mau tunduk padanya. Ia dapat merasakannya dari sikap
wanita itu, mendengarnya dari suaranya yang tenang. Wanita itu kuat dan percaya
diri, dan dia akan melawan.
Tak
lama lagi manager pabrik akan datang untuk memberi laporan dua mingguan dan
menerima instruksi Jason. Ia berusaha menjernihkan pikiran agar tampak
berwibawa. Ia tidak boleh memikirkan apa yang akan terjadi padanya bila terus
buta dan lumpuh. Karena setelah itu rasa takut akan bangkit dan
menyelubunginya.
“Mrs. Hadwick---“
“Panggil
saja aku Hilda, Sayang.”
“Terima
kasih, Hilda. Dan panggil aku Elinor.” Ia menyunggingkan senyumnya yang paling
ramah. “Maafkan aku kalau merepotkan, tapi dapatkah kau mencarikanku tempat
yang lain untuk tidur? Aku perlu berada di dekat pasienku di malam hari.”
“Tepat
di depan kamarnya ada kamar kosong,” kata sang pengurus rumah tangga dengan
ragu. “Tapi hanya sebesar lemari.”
Ternyata
kamar itu sangat kecil, dengan ruangan yang nyaris tidak cukup untuk diisi
tempat tidur, kursi, dan lemari pakaian.
“Tidak
apa-apa,” kata Elinor. “Yang penting aku siap datang kalau dia membutuhkanku.”
Hilda
menatapnya dengan senang. “Perawat-perawat lain tidak ada yang berpikiran
seperti itu. Mereka teralu gembira bisa menjauh dari dia. Dia bukan pasien yang
menyenangkan.”
“Sepertinya
begitu.”
“Mula-mula
aku kira dia akan gila. Biasanya dia pria yang aktif, lalu tiba-tiba dia tak
dapat melihat dan bergerak. Lebih parah lagi kalau dia…” Wanita itu berhenti
berkata seakan-akan tidak tega menyampaikan apa yang ada di dalam benaknya.
“Kau
sangat sayang padanya, bukan?” tanya Elinor dengan terkejut. Sungguh sulit
membayangkan ada orang yang suka pada Jason Tenby.
“Oh,
ya,” jawab Hilda seketika. “Dia sangat baik kepada aku dan Alf. Sewaktu Alf
kehilangan pekerjaan, Jason mencarikannya pekerjaan di estat. Itulah Jason. Dia
mengurus sendiri segalanya.”
Elinor
tidak mengomentari hal ini. Ia punya alasan untuk mengetahui bagaimana Jason Tenby mengurus segalanya.
Sementara
mereka bersama-sama membereskan tempat tidur Hilda menceritakan tentang
keluarga itu.
“Sekarang
tidak banyak yang tersisa,” ujarnya dengan penuh penyesalan. “Hanya Jason,
adiknya Simon, dan adik perempuan mereka. Dia menikah lalu pindah ke Australia.
Simon tinggal di sini sampai beberapa tahun yang lalu. Sekarang dia di London.”
Elinor
tahu bahwa Simon sudah pindah karena perawat yang terakhir bekerja di sini
telah memberinya pengarahan singkat. Syukurlah ia tidak perlu takut bertemu
dengan pria itu.
Betapa
getir raut wajah Simon ketika mereka berpisah tempo hari. Betapa buruk
panggilan yang pria itu berikan kepadanya. Semua itu bukan salah Simon. Jason
yang membuat situasi menjadi seperti itu. Tapi Simon begitu mudah percaya pada
semua kata-kata buruk tentang Elinor. Betapa teganya dia?
Elinor
berusaha mengendalikan diri dan menanyakan beberapa pertanyaan remeh dan
ringan. Hilda menjawabnya lalu perasaan itu menghilang.
“Tapi
kalau beruntung tak lama lagi akan ada keluarga baru,” celoteh wanita itu.
“Kami semua berharap Jason tak lama lagi membawa pengantinnya ke rumah. Begitu
dia sembuh, dia akan menikahi Miss Virginia.”
“Maksudmu
Virginia Cavenham?” cetus Elinor sebelum sempat memikirkannya baik-baik.
“Ya,
apakah kau kenal padanya?”
“Tidak, tapi aku pernah mendengar nama Cavenham itu.” Keluarga Cavenham adalah keluarga yang cukup terpandang di daerah itu. Elinor belum pernah bertemu Virginia, tapi ia tahu gadis itu adalah gadis kebanggaan keluarga. Bahkan dulu pun Simon pernah berkata Virginia akan menjadi calon mempelai Jason. Gadis itu “sepadan”.
“Tidak, tapi aku pernah mendengar nama Cavenham itu.” Keluarga Cavenham adalah keluarga yang cukup terpandang di daerah itu. Elinor belum pernah bertemu Virginia, tapi ia tahu gadis itu adalah gadis kebanggaan keluarga. Bahkan dulu pun Simon pernah berkata Virginia akan menjadi calon mempelai Jason. Gadis itu “sepadan”.
“Keluarga
ini telah bersahabat dengan keluarga gadis itu selama bertahun-tahun dan kami
tahu Jason suatu hari nanti mungkin akan menikahi salah satu dari kedua anak
gadisnya,” ujar Hilda.
“Bagaimana
kalau dia tidak mau?” tanya Elinor penasaran.
“Kalau
begitu Jason bisa melamar Jean Hebden, atau salah satu anak gadis Ainsworths,”
kata Hilda, menyebutkan nama keluarga terpandang dan para tuan tanah di desa
itu.
“Menikah
demi mendapatkan tanah,” ujar Hilda tegas. “Atau uang. Begitulah cara para
keluarga terpandang bisa bertahan selama berabad-abad.”
Ketika
Hilda telah keluar Elinor melihat sekeliling, terkejut menyadari bahwa
barang-barangnya yang sangat sedikit itu bisa muat di kamar yang sempit itu. Ia
membawa beberapa pakaian, seragam ganti, pakaian “bagus”, beberapa sweter,
beberapa pasang jins. Pakaian dalamnya berwarna putih dan sesuai fungsinya
tanpa hiasan bunga atau renda.
Riasan
wajahnya pun sama: dipakai hanya jika diperlukan. Tidak berlebihan. Buku-buku
yang dibawanya nyaris tidak dapat memenuhi rak buku: beberapa cerita detektif
untuk saat-saat santai, tapi kebanyakan buku kedokteran. Ia senang bisa mengetahui
perkembangan terakhir di bidang itu.
Tentu
saja ia punya alasan atas kesederhanaan ini. Ia suka bepergian dengan membawa
sedikit barang. Ia tidak suka menumpuk barang. Ada banyak alasan.
Namun
di dalam hati ia tahu semua itu tidak cukup untuk merangkum kehidupannya.
Kehidupannya yang rapuh. Hatinya yang rapuh. Ia berusaha mengenyahkan pikiran
itu, namun tidak dapat sepenuhnya membantah.
Cermin
di dalam lemari memperlihatkan seorang wanita muda yang rapi dan praktis,
wajahnya tanpa riasan, dengan sedikit gurat ketegangan di sekitar mulut.
Garis-garis halus di antara matanya menceritakan tentang malam-malam panjang
yang ia habiskan untuk belajar, hari-hari yang dipenuhi pekerjaan, tahun-tahun
tanpa libur, tanpa perasaan, tanpa apa pun.
Meskipun
begitu, kulitnya halus bagai buah persik. Raut wajahnya biasa saja, bibirnya
lebar dan berlekuk, dengan sesuatu yang nyaris seksi mengintip di
sudut-sudutnya. Jika saja wajahnya lebih ceria sedikit ia mungkin tampak
cantik. Jika saja mata birunya bersinar penuh cinta atau tawa mungkin ia akan
tampak menggemaskan.
Namun
baginya cinta dan tawa telah mati bertahun-tahun yang lalu.
Kenangan
akan hal itu datang dengan cepat dan memusingkan, dan ia berusaha mengendalikan
diri, seperti joki yang berusaha memaksa kuda yang bandel untuk melompat. Kuda
itu akan berusaha keras untuk mundur karena tahu yang ada di depan sana
hanyalah kesengsaraan dan ketakutan. Tapi sang joki tetap menyuruhnya ke sana.
Pesta
makan malam itu diadakan untuk menyambutnya. Simon dengan bangga mengatakan
Jason telah menyerah, sehingga Elinor berusaha mengenyahkan suara hatinya yang
mengatakan Jason tidak akan pernah menyerah. Dengan heran, takut, ia
bertanya-tanya apa yang telah direncanakan Jason.
Pada
hari pesta, petugas katering berdatangan dan mulai menyiapkan ruang makan,
membawa masuk makanan dan minuman dengan keranjang. Di tengah kesibukan itu,
kedua kakak-beradik itu masuk ke ruang kerja Jason dan bertengkar sengit hingga
salah satunya keluar dari ruangan dengan wajah tegang dan muram.
“Tidak
ada apa-apa, Sayang,” kata Simon, ketika Elinor bertanya. “Hanya Jason yang
mencoba menekankan pengaruhnya. Lupakan dia. Pergilah merias dirimu agar kau
tampak cantik malam ini.”
Namun entah
mengapa Simon tampak gelisah dan itu membuat Elinor khawatir. Sepanjang hari
itu ia beberapa kali memergoki Simon memandangnya dengan penuh pertimbangan.
Keduapuluh
orang tamu semua tersenyum dan menyambutnya penuh minat namun mereka melirik
Jason sedikit, seakan-akan penasaran apa yang sedang dipikirkan pria itu.
Elinor juga bertanya-tanya apa sebenarnya yang ada di balik senyum Jason. Di
tengah kemeriahan pesta, ia merasakan ketegangannya semakin memuncak.
Setelah
makan malam seseorang memainkan piano lalu mereka spontan berdansa. Elinor
berdansa dengan Simon, dan mendapat tepuk tangan.
Lalu
Jason maju dan mengulurkan tangannya, mengundang Elinor. Hanya saja itu lebih
mirip perintah daripada undangan.
Ia
terkejut melihat betapa lihainya pria itu berdansa. Tentu sangat menyenangkan
berpasangan dengan pria itu jika saja Elinor tidak terlalu tegang.
“Tersenyumlah,”
ujar pria itu. “Ini malam kemenanganmu.”
“Aku
tidak merasa menang,” Elinor meyakinkan Jason dengan kesal. “Aku hanya senang.
Aku sungguh-sungguh mencintai Simon. Kalau saja kau bisa memercayai itu.”
Tanpa
diduga pria itu berkata, “Aku merasa sangat mudah memercayainya. Hanya saja aku
berharap tidak seperti itu.”
“Lalu
kalau kau percaya padaku---“
“Pernahkah
terpikir olehmu kalau Simon itu bukan pria seperti yang kaubayangkan?”
Secercah
harapan muncul, dan senyum pun mengembang di bibir Elinor. Tiba-tiba ia merasa
melihat jalan terang.
“Ada
apa?” tanya Jason ketus. “Mengapa ekspresimu seperti itu?”
“Karena
sekarang aku tahu apa yang sebenarnya mengganggu pikiranmu.”
“Benarkah?”
ujar pria itu sinis. “Kalau begitu sudah saatnya kita bicara.”
Ia
mengarahkan Elinor menuju pintu terbuka, lalu membimbingnya masuk ke
perpustakaan.
Bayangan
itu berpendar ketika Elinor mengernyit mengingat apa yang terjadi kemudian. Ia
tidak ingin mengingatnya. Biarkan saja peristiwa itu di situ. Tentunya tidak
perlu membuka kembali luka lama, bukan?
Tapi ada
peri-peri kecil dalam otaknya yang memaksa untuk mengingat kembali, dan
mengenang dirinya masuk ke perpustakaan bersama Jason. Ia bukan hanya melihat
kedua sosok mereka, tapi juga bagaimana dengan bodoh ia percaya bahwa dirinya
telah berhasil meyakinkan pria itu. Ingin rasanya ia mengulurkan tangan dan
menarik gadis bodoh itu dari marabahaya yang akan dimasukinya. Namun sekarang
ia tak dapat melakukan itu.
Di
dalam perpustakaan mereka saling berpandangan.
“Jadi
coba katakan pengetahuan hebat apa yang berhasil kaudapatkan?” ujar pria itu
sinis.
“Aku
baru saja menyadari---kau tahu kalau Simon punya sisi kelam, bukan?”
Jason terkejut. “Jadi kau menyadari kalau dia punya sisi kelam?”
Jason terkejut. “Jadi kau menyadari kalau dia punya sisi kelam?”
“Tentu
saja. Semua orang punya.” Rasa percaya diri yang meningkat membuatnya
menambahkan, “Kau juga pasti punya.”
Alih-alih
tersinggung, pria itu menyeringai lebar dan berkata, “Ayo lanjutkan. Aku tidak
dapat menunggu lebih lama.”
“Baiklah,
aku tidak mengetahui sisi kelamnya. Tapi, dia juga tidak tahu sisi kelamku.”
“Apa?”
“Oh,
aku memang punya sisi kelam,” ujar Elinor tertawa. “Aku sangat pemarah di pagi
hari. Aku tak bisa membayangkan Simon menjadi pemarah, tapi aku sudah siap
kalau ternyata perkiraanku salah. Bila kita mencintai seseorang, kita akan
mencintai segala sesuatu tentang dirinya---termasuk segala kekurangannya,
karena kekurangan itu adalah bagian dari diri orang itu.”
Lalu ia
melantur terus, dengan percaya diri melanjutkan, masuk ke dalam jebakan Jason,
melihat raut tak senang di wajah pria itu namun tidak memahaminya.
Sambil
mengernyit pria itu dengan marah berkata. “Kau pikir kau tahu semuanya!”
“Aku
tahu tentang cinta, Jason. Aku cinta Simon dan dia juga mencintaiku, tidak ada
yang dapat memisahkan kami. Kami akan berdiri berdampingan menghadapi segala
kemungkinan buruk yang akan datang dari dirimu.”
Karena
tambah percaya diri ia tersenyum memandang wajah Jason. Pria itu menarik napas
dan alisnya berkerut.
“Dasar
bodoh!” gerutunya. “Dasar anak kecil! Gadis bodoh yang cantik! Kau begitu lugu,
polos---Ya Tuhan, beri aku kesabaran!”
Ia
mencengkeram bahu Elinor, menatap gadis itu lekat-lekat. Tiba-tiba ia mendengar
suara Simon di aula. Tiba-tiba ia melihat wajah Jason mendadak tegang,
seakan-akan pria itu mengambil suatu keputusan, dan detik berikutnya pria itu
menarik Elinor dengan keras ke tubuhnya, menyusurkan tangannya ke tubuh gadis
itu, lalu menundukkan kepala dan melumat bibitnya.
Tiba-tiba
bayangan itu menghilang.
Berulang
kali ingatannya berhenti pada titik itu, dan baru kembali beberapa bulan kemudian,
dengan menampakkan wajah Simon yang pucat dan bingung.
“Kau
berkhianat, dasar perempuan jalang,” teriak Simon. “Kau licik, tidak
setia---selama ini kukira kau cinta padaku, tapi kau ternyata mengincar
tangkapan yang lebih besar, bukan? Aku percaya padamu!”
Elinor
berusaha membantah, namun pria itu menghentikannya. “Aku mencintaimu, aku telah
menyerahkan seluruh hidupku kepadamu, lalu begitu aku membalikkan badan kau
pergi ke pelukan kakakku. Apalagi yang telah kalian berdua lakukan?”
“Tidak ada,” jerit Elinor. “Simon, kumohon---ini tidak seperti yang
kaubayangkan.”
“Bagiku
semua sangat jelas. Ya Tuhan, Cindy, bagaimana kaubisa melakukan ini?”
Semua
tamu sepertinya berdiri di belakang Simon, menyimak tuduhan yang mematahkan
hati itu, menyaksikan betapa malu dirinya.
“Dengarkan
penjelasanku,” ia memohon sambil terisak.
“Mendengarkan
penjelasanmu! Aku tidak akan mau atau bahkan tidak akan mau tahu tentang dirimu
lagi. Enyahlah dari hadapanku.”
“Cukup!”
Jason menengahi. “Kau sudah mengatakan apa yang ingin kaukatakan, Simon. Sekarang pergilah. Sudah selesai.”
“Ya,
sudah selesai,” katanya dengan tersekat.
“Selesai, Cindy, selesai! Dan kupikir
kau dan kau akan terus bersama.”
Simon
berbalik badan lalu melesat menaiki tangga. Elinor mengikutinya, tapi mendapati
pintu kamar pria itu dikunci dari dalam, dan gedorannya yang membabi buta tidak
ditanggapi. Akhirnya ia terduduk di lantai, tesedu-sedu.
Ia
tidak tahu berapa lama dirinya berada di sana, namun akhirnya Jason datang dan
memberitahu kalau semua tamu sudah pulang.
Elinor
menengadah menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
“Kau---kau
melakukan ini dengan sengaja,” ujarnya tersekat.
“Ya,
aku melakukannya dengan sengaja. Ayo, bangun.”
Jason
meletakkan tangannya di siku Elinor lalu mengangkat wanita itu dengan tegas
hingga berdiri. Elinor menurut karena tidak ada lagi yang dapat dilakukannya.
Ia tidak memiliki siapa pun selain Simon, dan sekarang pria itu memusuhinya.
Jason
membimbingnya masuk ke kamar, dan dengan tegas berkata, “Kemasi barang-barangmu.
Kau akan pulang pagi ini.”
Elinor
masih berharap ia dapat bertemu Simon sebelum pergi, tapi saat subuh ia
mendengar suara mesin mobil dihidupkan di bawah jendelanya. Ia berlari dan
membuka jendela, tepat saat
itu ia melihat mobil Simon melesat pergi.
Pria
itu telah pergi dari kehidupannya untuk selamanya, pria itu dengan salah paham
yakin Elinor telah mengkhianati cinta mereka.
Namun
pengkhianatan yang sebenarnya datang dari kakaknya, yang memaksa mencium
Elinor, karena tahu Simon akan datang dan menyaksikan mereka. Mengapa, oh,
mengapa Simon tidak memahami itu? Mengapa dia dengan mudah percaya pada hal-hal
buruk mengenai dirinya?
Jason
berkeras ingin mengantarnya ke stasiun kereta api. Elinor meninggalkan semua
hadiah yang diterimanya, semua perhiasan yang pernah diberikan Simon kepadanya.
Tapi ia
meninggalkan lebih dari semua itu: masa muda dan impian, harapan, cinta, dan
kepercayaan bahwa dunia tempat yang baik. Semua itu telah dirampas dengan keji
dari dirinya.
Sambil
berdiri, ia menatap wajahnya yang tegang dan sedih di cermin, untuk pertama
kalinya ia mengerti bagaimana semua ini menghilang dari dirinya dan betapa
hampanya wanita yang tersisa.
Dengan
cepat ia menutup pintu dan menuruni tangga.
Dapur telah berubah sejak terakhir ia kemari.
Dapur yang lama cukup tua untuk dijadikan monumen barang antik. Sedangkan yang
baru amat sangat tradisional, dengan langit-langit dari kayu ek dan panci-panci
perunggu bergelantungan di dinding. Tapi peralatannya modern, seperti yang
ditunjukkan Hilda dengan bangga.
“Aku
harus membujuknya untuk membuat itu,” ujar Hilda seraya menunjuk langit-langit.
“Dia suka gaya lama, dan nilai-nilai lama. Tapi aku bilang padanya, dapur ini
mungkin cukup baik untuk dipakai
memasak oleh Ratu Victoria,
tapi tidak cukup bagus untukku.”
“Apakah
Ratu Victoria pernah mengunjungi Tenby Manor?” tanya Elinor.
“Begitulah
desas-desusnya. Aku tidak terkejut. Lagi pula, aku sudah cukup bersabar dengan
dapur itu, lalu aku bilang, silakan pilih dapur itu atau aku yang pergi.”
“Lalu apa
jawab Mr. Tenby?”
“Dia
bilang, ‘Hilda, Tenby Manor bisa hancur berkeping-keping tanpa dirimu.’
Kemudian besoknya datang orang ke sini untuk mengukur.”
Elinor
terkejut. Meskipun detail yang agak dilebih-lebihkan sudah dibuang, inti dari
pernyataan tadi adalah Jason Tenby mendengarkan permintaan Hilda. Tapi tentu
saja, dengan modernisasi ia meningkatkan nilai rumah itu.
Pintu
sebelah luar, yang selama ini dibiarkan sedikit terbuka didorong terbuka lalu
seekor anjing spaniel hitam berlumpur
masuk ke ruangan.
“Bob,
anak nakal,” teriak Hilda, “di mana kau bersembunyi?” Ia menyodorkan biskuit
yang langsung dilahap anjing itu. “Ini anjing Jason. Sekarang tidak ada yang
punya waktu untuk bermain-main dengannya, anjing malang, jadi dia menghabiskan
waktu dengan menjelajahi halaman.”
“Anjing
Mr. Tenby? Dia tidak---“ Elinor dengan cepat mengingatkan diri sendiri agar
tidak berkata Jason tidak punya anjing waktu terakhir kali dia ke sini, dan
lekas-lekas mengganti, “Dia tidak seperti orang yang suka punya peliharaan.”
“Bob
lebih daripada sekadar peliharaan. Dia memenangkan banyak penghargaan di
pameran anjing. Daftar silsilahnya
sangat panjang. Tampangnya saat ini memang tidak meyakinkan karena dia berlumur
lumpur. Tapi dia sebenarnya Lord Robertson Winstanley Mooreswell of Hatley
Place,” Hilda mengumumkan dengan bangga, lalu setelah itu menambahkan, “ke
delapan.”
Aku
percaya, kata Elinor dalam hati. Bahkan anjing pria itu pun punya silsilah.
Bob
melompat ke arahnya.
“Jangan
dekat-dekat!” kata Elinor ketus. Lalu pipinya memerah dan ia menambahkan,
“Kakinya---“
“Ya,
kau tentunya tidak mau kaki yang kotor itu mengenai seragammu yang bersih,”
kata Hilda.
Elinor
mengangguk, tapi tidak tersenyum. Untuk beberapa saat sikap bermusuhannya
dengan segala macam yang berhubungan dengan Tenby sudah merambah sampai ke
binatang tak bersalah yang disayang Jason hanya karena dia punya silsilah yang
tidak dimiliki Elinor.
Untuk
menutupi keadaan itu ia mulai bertanya mengenai kondisi rumah. “Rumah ini
sangat besar untuk diurus seorang diri.”
“Aku
sebenarnya tidak sendirian. Aku membersihkan kamar Jason karena dia tidak suka
ada orang asing di sana, tapi untuk bagian yang lain ada beberapa wanita
pelayan yang datang dari desa. Suamiku, Alf melakukan tugas ini-itu dan
mengurus taman dapur.”
Lalu
Hilda berkonsentrasi menyiapkan hidangan makan malam dan mengatakan kepada
Elinor bahwa santap malam akan siap satu jam lagi.
“Daging
dan dua jenis sayuran, dengan banyak saus,” ujarnya dengan bangga. “Aku
memasakkan untuknya setiap hari. Dan puding yang lezat sebagai penutup. Kalau
saja dia tidak hanya menyendoknya! Tidak apa. Aku akan membuatnya gemuk lagi.”
Elinor
menahan diri untuk mengatakan Hilda tidak akan bisa membuat Jason gemuk dengan
memasak makanan yang tidak dimakannya. Waktunya tidak tepat.
Dari
luar ia dapat mendengar ada seseorang berjalan menuruni tangga, meninggalkan
rumah, lalu pergi dengan mobil.
“Itu
pasti manager pabrik,” kata Hilda. “Dia ke sini untuk menerima perintah.”
“Maksudmu
dia selama ini berada di atas dengan Mr. Tenby?” tanya Elinor dengan terkejut.
“Dia
datang ke sini dua kali seminggu. Dr. Harper---dokternya Jason---berusaha
melarangnya, tapi Jason menjadi sangat marah sehingga dia terpaksa mengalah.”
“Kurasa
aku sebaiknya berbicara dengan Mr. Tenby.”
Ia
mendapati Jason terbaring diam tak bersuara. Sulit untuk mengatakan pria itu
tidur atau bangun.
“Mengapa
kau memelototiku?” tanya pria itu dengan kesal.
“Maafkan
aku, aku tidak mengira.”
“Aku
tahu kau di sana. Tidakkah kau menyadari itu hal paling tidak menyenangkan?
Orang menatapmu, mengira kau tidak tahu. Orang yang mengira orang buta sama
dengan bodoh.”
“Mr.
Tenby, aku tidak ingin kau beranggapan dirimu bodoh---“
“Tentu!
Oke!” katanya ketus. “Aku tidak buta, hanya tidak bisa melihat apa-apa.”
“Untuk
sementara. Itu mungkin bukan permanen, dan lebih baik kau tidak menanamkan
dalam otakmu bahwa kau ‘buta’.”
Pria
itu mendengus. “Kalian para perawat, seharusnya main drama bersama. Perawat
yang terakhir justru mengatakan kebalikannya; jangan pernah berhenti
menyesuaikan diri dengan kenyataan.”
“Menyesuaikan
diri dengan kenyataan sebelum kau yakin itu benar-benar kenyataan artinya kau
menyerah,” kata Elinor dengan tenang.
Hening.
“Jadi
kau bisa mengatakan hal yang logis tentang sesuatu,” gerutu Jason.
“Kau
akan heran melihat betapa banyaknya hal logis yang bisa kukatakan,” ujar Elinor
tegas.
“Bagus.
Kau bisa tinggal di sini sementara. Tapi ada satu hal lagi.”
“Ya?”
Tanpa
disangka-sangka pria itu meraih tangan Elinor dan menggenggamnya dengan dua
tangan.
“Mr.
Tenby---“
“Jangan
bergerak,” ujar pria itu parau.
Satu
tangan masih memegang tangan Elinor sementara yang satu lagi bergerak ke atas
menyusuri lengannya dan meraba kerah baju seragamnya. Lalu pria itu
melepaskannya.
“Lepas
seragam itu dan pakai sesuatu yang lebih pantas,” perintahnya. “Kau membuatku
sakit dengan berdiri di sana memakai seragam itu.”
“Baiklah,
Sir.”
“’Baiklah,
Sir,’” ulang pria itu. “Suaramua begitu dingin, tenang, sabar. Suara yang
sangat netral. Demi Tuhan, aku berharap
dapat melihat wajahmu saat ini juga.”
“Wajahku
juga netral,” Elinor meyakinkannya. “Perlakukan saja aku seperti mesin.”
“Di
pabrikku ada mesin. Tapi mesin itu berbau oli, bukan bunga liar seperti
dirimu.”
Elinor
tersentak. Ia tidak memakai parfum dan tidak memakai sabun wangi. Apa yang
dicium oleh pria itu tersembunyi dari dunia.
“Aku
naik ke sini karena tidak setuju ada banyak orang di kamar ini tadi,” kata
Elinor cepat-cepat. “Kau masih butuh banyak istirahat dan kurasa kita harus---“
“Tidak,
kurasa kau harus mendengarkan sementara aku memperjelas beberapa hal,” sela
pria itu. “Aku sakit sudah lama. Ada banyak perkerjaan yang harus diselesaikan
dan tidak ada orang yang dapat kupercaya untuk melakukannya. Jadi jika aku
ingin berbicara dengan manager atau pengacaraku aku akan melakukannya. Aku
harap itu bisa dimengerti.”
“Dengan
sempurna. Kalau kau merasa kau cukup hebat dalam pekerjaanmu sehingga harus
memberi perintah, aku tidak bisa membantahnya.”
“Jangan
sok pintar denganku!” hardik Jason. “Kau perawat, bukan penjagaku. Aku tidak
mau dimanja.”
“Aku
senang mendengarnya.”
“Jadi
mengapa Hilda menyuruhmu pindah ke kamar di seberang kamarku? Kalau itu bukan
karena ingin memanjakankau, apa namanya?”
“Itu
demi pertimbangan profesional. Sementara kondisimu masih belum baik aku lebih
suka berada di dekatmu pada malam hari.”
“Persetan
dengan itu! Kau harus segera pindah dari kamar itu dan kembali ke kamar
sebelumnya. Kau dengar?”
“Aku
dengar. Tapi aku tetap di situ.”
“Kalau
begitu aku akan menyuruh Hilda memindahkan barang-barangmu.”
“Kau
tidak akan melakukan itu. Pekerjaan Hilda sudah cukup banyak, tidak usah
menempatkannya dalam situasi terjepit seperti itu. Kau ingin bertengkar? Baik!
Kita akan bertengkar. Tapi jangan bawa-bawa Hilda.”
Jason
mengertakkan giginya. “Aku rasa takdir tidak berpihak kepadaku! Bukan saja kau
harus terbaring di sini, tak berdaya dan tak berguna. Aku juga dikutuk karena ada
wanita keji yang berderap ke sini memberi perintah seperti sipir penjara. Aku
masih Tuan di sini, kalau-kalau kau tidak menyadari itu.”
“Aku
rasa seluruh dunia pun tahu kalau kau meneriakkannya keras-keras seperti itu,”
ujar Elinor tenang.
“Aku
berteriak karena itu satu-satunya cara agar kau mau mendengarkanku. Kau lakukan
apa yang kukatakan bila aku mengatakannya, dan itu final. Sekarang pergilah
dari sini sebelum aku benar-benar marah.”
Subscribe to:
Posts (Atom)