Wednesday, 11 March 2020

Meluluhkan Jason

Hasil gambar untuk taming jason




Taming Jason by Lucy Gordon, 287 pages. First published August 1, 2000





Prolog


  
IA takkan menangis. Tak peduli betapa pun ia ingin melakukannya, ia takkan menangis dan membiarkan Jason Tenby yang penuh kebencian tahu seberapa dalam pria itu telah menyakitinya.
          Cindy Smith menekankan tangannya ke mulut untuk menahan isak tangis. Lewat matanya yang kabur oleh air mata ia dapat melihat pemandangan daerah pedesaan berkelebat dilewati mobil. Seiring bertambahnya setiap kilometer, ia semakin jauh dari pria yang ia cintai.
          Jason Tenby duduk di sebelahnya, matanya terpaku melihat jalan. Tak pernah sekali pun pria itu melihat ke arahnya dan Cindy tahu pria itu tak peduli pada hatinya yang hancur.
          Setiap jengkal tubuh pria itu memancarkan kekuasaan, dari sikap kepalanya yang angkuh sampai caranya meletakkan tangan di roda kemudi, mengendalikannya dengan sentuhan yang amat ringan.
          Bagi Jason, kendali adalah segalanya. Ia begitu marah saat mengetahui adiknya, Simon, telah memilih gadis yang tidak sederajat dengan keluarga Tenby yang terpandang untuk dinikahi. Jadi ia mengambil insiatif untuk menghancurkan pertunangan mereka. Dan itu dilakukannya tanpa perasaan.
          Meskipun usianya masih di akhir dua puluhan wajah Jason memancarkan kekuasaan yang memang diwarisinya. Keluarga Tenby sudah bergenerasi-generasi tinggal di Tenby Manor, memerintah daerah pedesaan di sekitarnya, baik secara terang-terangan maupun melalui bujukan halus. Jason Tenby adalah penguasa terakhir dari daftar penguasa yang panjang.
          Gadis yang duduk di sebelahnya sama sekali tidak setara dengannya. Gadis itu berusia delapan belas tahun, dengan tulang kecil dan wajah halus yang rapuh. Sepanjang hidupnya yang muda gadis itu pernah mengenal kemiskinan tapi tak pernah mengalami kekerasan, dan pengalaman pertamanya dengan kekerasan itu telah membuatnya putus asa.
          “Kita akan sampai di stasiun lima menit lagi,” kata Jason. “Masih banyak waktu untuk mengejar kereta api.”
          “Kau tak berhak melakukan ini,” kata gadis itu berapi-api.
          “Kita sudah selesai membahas itu.” Suara Jason terdengar bosan dan tak sabar. “Pertunanganmu tak mungkin berhasil. Camkanlah ucapanku, Simon bukan suami yang pantas untukmu.”
          “Karena dia seorang Tenby, dan ibuku selama ini mengepel lantai rumah kalian,” kata gadis itu dengan menuduh.
          “Dengar, jangan---“
          “Kau langsung berniat memutuskan kami begitu Simon memperkenalkan aku, bukan?”
          “Kurang-lebih, begitulah. Tapi jangan terlalu membesar-besarkan hal ini. Kau masih delapan belas tahun. Hatimu akan pulih dengan cepat.”
          “Bagimu mudah saja!” tangis gadis itu. “Kau tinggal perintah maka semua orang akan berbaris dengan patuh. Tapi aku tidak, ya kan? Aku tidak akan menerima uang darimu atau mendengarkan petunjuk mengenai mengapa aku tidak akan bisa menyesuaikan diri---“
          “Aku hanya mencoba---“
          “Jadi waktu kau sudah tidak dapat lagi menakut-nakuti aku kau---kau---“ Tiba-tiba pertahanan diri Cindy runtuh. “Oh, Tuhan, bagaimana bisa kau melakukannya?” isaknya. “Mengapa kau begitu kejam?”
          “Kita sudah sampai,” Jason memberitahu sambil menghentikan mobilnya. “Jangan ribut-ribut di depan umum. Aku tahu apa pendapatmu tentang diriku, dan aku tak peduli.”
          “Tak ada apa pun yang kaupedulikan selain mengenyahkan aku.”
          “Tentu saja aku akan lebih senang kalau sudah melihatmu masuk ke kereta api.”
          Ketika kereta api masuk ke peron Jason mendorong tas Cindy masuk, dan menyuruh gadis itu segera masuk juga.
          “Jangan menangis, gadis kecil,” katanya dengan suara yang lebih lembut. “Dan cobalah untuk tidak membenciku. Percayalah, ini jalan yang terbaik.” Ia lalu menutup pintu.
          Kepala peron meniup peluitnya. Cepat-cepat Cindy membuka jendela dan menjulurkan badan keluar, menatap langsung wajah Jason yang keras.
          “Tapi aku memang membencimu,” isaknya. “Aku membencimu karena kau menginjak-injak hak orang lain dan tidak memedulikan perasaan mereka. Kau mengenyahkan aku karena kaupikir aku tidak cukup baik. Well, akan kubuktikan bahwa kau salah, lalu aku akan kembali.”
          “Jangan kembali,” kata Jason buru-buru. “Menjauhlah dari keluarga ini.”
          Kereta api mulai bergerak.
          “Kau dengar kata-kataku?” teriak Cindy. “Suatu hari nanti aku akan kembali.”
          Jason tidak berusaha menjawab, tapi ia tetap berdiri mengawasi gadis itu sampai tak terlihat lagi. Cindy merasa ia melihat keterkejutan di wajah pria itu.
          Ia telah bersumpah akan kembali, tapi itu hanya demi harga dirinya. Bagaimana mungkin ia kembali ke tempat yang telah menolaknya dengan kejam?
          Tapi ternyata itu terjadi.

          Enam tahun kemudian Suster Elinor Lucinda Smith kembali ke Tenby Manor sebagai harapan terakhir bagi musuh bebuyutannya, Jason Tenby, yang kini terbaring buta, cacat, dan sendirian.













No comments:

Post a Comment