Taming Jason by Lucy Gordon, 287 pages. First published August 1, 2000
Prolog
IA takkan menangis. Tak peduli betapa pun ia ingin
melakukannya, ia takkan menangis dan membiarkan Jason Tenby yang penuh
kebencian tahu seberapa dalam pria itu telah menyakitinya.
Cindy
Smith menekankan tangannya ke mulut untuk menahan isak tangis. Lewat matanya
yang kabur oleh air mata ia dapat melihat pemandangan daerah pedesaan
berkelebat dilewati mobil. Seiring bertambahnya setiap kilometer, ia semakin
jauh dari pria yang ia cintai.
Jason
Tenby duduk di sebelahnya, matanya terpaku melihat jalan. Tak pernah sekali pun
pria itu melihat ke arahnya dan Cindy tahu pria itu tak peduli pada hatinya
yang hancur.
Setiap
jengkal tubuh pria itu memancarkan kekuasaan, dari sikap kepalanya yang angkuh
sampai caranya meletakkan tangan di roda kemudi, mengendalikannya dengan
sentuhan yang amat ringan.
Bagi
Jason, kendali adalah segalanya. Ia begitu marah saat mengetahui adiknya,
Simon, telah memilih gadis yang tidak sederajat dengan keluarga Tenby yang
terpandang untuk dinikahi. Jadi ia mengambil insiatif untuk menghancurkan
pertunangan mereka. Dan itu dilakukannya tanpa perasaan.
Meskipun
usianya masih di akhir dua puluhan wajah Jason memancarkan kekuasaan yang
memang diwarisinya. Keluarga Tenby sudah bergenerasi-generasi tinggal di Tenby
Manor, memerintah daerah pedesaan di sekitarnya, baik secara terang-terangan
maupun melalui bujukan halus. Jason Tenby adalah penguasa terakhir dari daftar
penguasa yang panjang.
Gadis
yang duduk di sebelahnya sama sekali tidak setara dengannya. Gadis itu berusia
delapan belas tahun, dengan tulang kecil dan wajah halus yang rapuh. Sepanjang
hidupnya yang muda gadis itu pernah mengenal kemiskinan tapi tak pernah
mengalami kekerasan, dan pengalaman pertamanya dengan kekerasan itu telah
membuatnya putus asa.
“Kita
akan sampai di stasiun lima menit lagi,” kata Jason. “Masih banyak waktu untuk
mengejar kereta api.”
“Kau
tak berhak melakukan ini,” kata gadis itu berapi-api.
“Kita
sudah selesai membahas itu.” Suara Jason terdengar bosan dan tak sabar.
“Pertunanganmu tak mungkin berhasil. Camkanlah ucapanku, Simon bukan suami yang
pantas untukmu.”
“Karena
dia seorang Tenby, dan ibuku selama ini mengepel lantai rumah kalian,” kata
gadis itu dengan menuduh.
“Dengar,
jangan---“
“Kau
langsung berniat memutuskan kami begitu Simon memperkenalkan aku, bukan?”
“Kurang-lebih,
begitulah. Tapi jangan terlalu membesar-besarkan hal ini. Kau masih delapan
belas tahun. Hatimu akan pulih dengan cepat.”
“Bagimu
mudah saja!” tangis gadis itu. “Kau tinggal perintah maka semua orang akan
berbaris dengan patuh. Tapi aku tidak, ya kan? Aku tidak akan menerima uang
darimu atau mendengarkan petunjuk mengenai mengapa aku tidak akan bisa
menyesuaikan diri---“
“Aku
hanya mencoba---“
“Jadi
waktu kau sudah tidak dapat lagi menakut-nakuti aku kau---kau---“ Tiba-tiba
pertahanan diri Cindy runtuh. “Oh, Tuhan, bagaimana bisa kau melakukannya?”
isaknya. “Mengapa kau begitu kejam?”
“Kita
sudah sampai,” Jason memberitahu sambil menghentikan mobilnya. “Jangan
ribut-ribut di depan umum. Aku tahu apa pendapatmu tentang diriku, dan aku tak
peduli.”
“Tak
ada apa pun yang kaupedulikan selain mengenyahkan aku.”
“Tentu
saja aku akan lebih senang kalau sudah melihatmu masuk ke kereta api.”
Ketika
kereta api masuk ke peron Jason mendorong tas Cindy masuk, dan menyuruh gadis
itu segera masuk juga.
“Jangan
menangis, gadis kecil,” katanya dengan suara yang lebih lembut. “Dan cobalah
untuk tidak membenciku. Percayalah, ini jalan yang terbaik.” Ia lalu menutup
pintu.
Kepala
peron meniup peluitnya. Cepat-cepat Cindy membuka jendela dan menjulurkan badan
keluar, menatap langsung wajah Jason yang keras.
“Tapi
aku memang membencimu,” isaknya. “Aku membencimu karena kau menginjak-injak hak
orang lain dan tidak memedulikan perasaan mereka. Kau mengenyahkan aku karena
kaupikir aku tidak cukup baik. Well,
akan kubuktikan bahwa kau salah, lalu aku akan kembali.”
“Jangan
kembali,” kata Jason buru-buru. “Menjauhlah dari keluarga ini.”
Kereta
api mulai bergerak.
“Kau
dengar kata-kataku?” teriak Cindy. “Suatu hari nanti aku akan kembali.”
Jason
tidak berusaha menjawab, tapi ia tetap berdiri mengawasi gadis itu sampai tak
terlihat lagi. Cindy merasa ia melihat keterkejutan di wajah pria itu.
Ia
telah bersumpah akan kembali, tapi itu hanya demi harga dirinya. Bagaimana
mungkin ia kembali ke tempat yang telah menolaknya dengan kejam?
Tapi
ternyata itu terjadi.
Enam
tahun kemudian Suster Elinor Lucinda Smith kembali ke Tenby Manor sebagai
harapan terakhir bagi musuh bebuyutannya, Jason Tenby, yang kini terbaring
buta, cacat, dan sendirian.
No comments:
Post a Comment